Ulama dan Umara: Dua Pilar Peradaban untuk Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter

Ulama dan Umara: Dua Pilar Peradaban untuk Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter

A
HZ
Admin
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

DI tengah kompleksitas tantangan sosial, politik, ekonomi, dan moral yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, kolaborasi antara ulama dan umara menjadi kebutuhan strategis dalam membangun masyarakat yang maju sekaligus berkarakter.

Pembangunan tidak cukup hanya diukur dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau peningkatan investasi, tetapi juga harus diukur dari kualitas moral, spiritual, dan kebudayaan masyarakatnya.

Dalam konteks itulah, sinergi antara kekuatan moral-spiritual (ulama) dan kekuatan struktural-politik (umara) menjadi fondasi penting bagi lahirnya peradaban yang berkeadaban.

Tagline “Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter” sesungguhnya mengandung makna filosofis yang sangat mendalam. Kata maju merepresentasikan kemajuan material, inovasi, teknologi, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan sumber daya manusia.

Sementara kata berkarakter menunjukkan pentingnya dimensi etika, religiusitas, integritas, dan kebudayaan lokal sebagai ruh pembangunan. Persoalannya, kemajuan tanpa karakter akan melahirkan krisis moral, sedangkan karakter tanpa kemajuan akan menyebabkan stagnasi sosial. Karena itu, keduanya harus berjalan secara integratif.

Dalam tradisi Islam, relasi ulama dan umara memiliki akar teologis yang kuat. Al-Qur’an menegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu” (QS. An-Nisa: 59).

Ayat ini menunjukkan bahwa struktur sosial masyarakat Islam dibangun di atas tiga otoritas: otoritas ilahiah (Allah), otoritas kenabian (Rasul), dan otoritas sosial-politik (ulil amri). Dalam konteks historis Islam, ulama dan umara bukanlah dua entitas yang dipertentangkan, melainkan dua kekuatan yang saling melengkapi. Ulama memberikan arah moral dan etika, sementara umara menghadirkan kebijakan dan kekuatan implementasi sosial.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin bahkan menyatakan bahwa agama dan kekuasaan adalah “saudara kembar”; agama adalah fondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Agama tanpa kekuasaan akan lemah, sementara kekuasaan tanpa agama akan melahirkan kezaliman. Pernyataan ini masih sangat relevan dalam konteks pembangunan modern. Banyak negara mengalami kemajuan teknologi, tetapi kehilangan orientasi moral sehingga muncul korupsi struktural, krisis integritas, dan dehumanisasi sosial.

Di Sulawesi Selatan, relasi ulama dan umara memiliki akar historis yang panjang. Islamisasi kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar pada abad ke-17 menunjukkan bahwa perubahan sosial besar tidak lahir hanya melalui kekuatan politik, tetapi juga melalui legitimasi moral dan dakwah keagamaan. Tokoh-tokoh ulama seperti Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro memainkan peran besar dalam membangun fondasi spiritual masyarakat Sulawesi Selatan. Dari sini terlihat bahwa pembangunan masyarakat Bugis-Makassar sejak awal memang bertumpu pada integrasi adat, agama, dan kekuasaan.