Terkini, Jeneponto – Di bawah terik matahari yang menyengat di Dusun Bontote'ne, Desa Arpal, Kecamatan Arungkeke, pemandangan yang jarang terlihat menyentuh hati setiap orang yang melihat. Seorang perwira menengah dengan dua melati emas terpampang gagah di pundaknya, tak lagi berdiri di atas panggung atau memantau dari kejauhan. Ia justru turun ke tanah, memegang sekop, mengaduk adukan semen dan pasir, seragam loreng kebanggaannya kini berlumuran campuran demen dan bercampur keringat.
Itulah Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa, Komandan Kodim 1425/Jeneponto sekaligus Dansatgas TMMD ke-128 Tahun 2026. Hari ini, Minggu, 3 Mei 2026, ia bukan hanya pemimpin operasi pembangunan, melainkan bagian dari barisan pekerja yang bahu-membahu mewujudkan jalan rabat beton sepanjang 1.100 meter yang akan menjadi penghubung penting antara Desa Arpal, Kecamatan Arungkeke dan Desa Camba Camba, Kecamatan Batang.
Tak Ada Jarak, Hanya Kerja Sama
Bagi sebagian orang, posisi seorang komandan identik dengan perintah dan pengawasan. Namun bagi Letkol Muthalib, makna kepemimpinan justru teruji di tengah-tengah kerja keras. Ia berbaur begitu akrab dengan prajurit dan warga, tak ada sekat pangkat maupun status. Tawa canda sesekali terdengar di antara deru mesin pengaduk, seolah semua adalah saudara yang sedang membangun masa depan bersama.

"Tak ada jarak antara kami dan masyarakat. Kalau pemimpinnya hanya melihat dari atas, bagaimana bisa merasakan beratnya pekerjaan dan harapan mereka?, Kami ingin hadir bersama, bukan hanya menjadi simbol. Karena pembangunan ini bukan milik TNI saja, tapi milik kita semua," Ungkap Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa Sambil menyeka keringat di dahi.
Setiap ayunan sekop yang ia lakukan, setiap kali ia meratakan permukaan adukan, adalah bukti nyata dari pengabdian. Di matanya, jalan yang sedang dibangun ini bukan sekadar tumpukan beton dan batu. Ia melihatnya sebagai jembatan yang akan menghubungkan harapan selama ini terpendam.
Jalan yang Membuka Pintu Rezeki
Selama puluhan tahun, akses menuju kedua desa ini terbilang sulit. Saat musim hujan, jalan tanah becek dan licin membuat warga kesulitan mengangkut hasil panen seperti kakao, kopi, dan sayuran ke pasar. Anak-anak pun harus berjalan jauh melewati medan yang berat hanya untuk menuju sekolah.
"Kalau jalan ini sudah jadi, Insya Allah hidup kami akan berubah," ungkap H. Syamsuddin, tokoh masyarakat setempat yang juga ikut bekerja.
Menurutnya, akses jalan yang dibangun TNI melalui program TMMD ke-128 akan mempercepat perputaran ekonomi masyarakat,"Hasil panen bisa cepat terjual, biaya transportasi lebih murah, dan anak-anak kami bisa sekolah dengan lebih aman. Ini adalah anugerah terbesar yang kami terima selama ini." tuturnya.
Hingga hari ini, progres pengecoran sudah mencapai sekitar 350 meter. Angka ini bukan hanya statistik, melainkan bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan terbesar. "Alhamdulillah, hasilnya lebih cepat dari perkiraan. Ini semua karena kita bekerja bersama-sama. Beban terasa ringan, hasilnya pun memuaskan," jelas Letkol Muthalib dengan senyum bangga.
Harapan yang Mengalir di Atas Beton
Bagi sang komandan, pembangunan fisik hanyalah permulaan. Yang lebih penting adalah terbentuknya ikatan emosional antara TNI dan rakyat, serta tumbuhnya rasa memiliki di kalangan masyarakat.
"Jalan ini nantinya akan menjadi saksi, bagaimana kerja sama bisa mengubah nasib. Saya berharap, selain membuka akses ekonomi, jalan ini juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan yang terus terjaga selamanya," harapnya.
Saat matahari mulai condong ke barat, para pekerja mulai beristirahat sejenak. Di belakang mereka, terbentang hamparan jalan beton yang perlahan terbentuk, sementara di depan, terhampar harapan yang kini mulai menemukan jalannya. Di balik setiap jejak semen dan keringat itu, tersimpan kisah pengabdian yang akan terus dikenang oleh generasi mendatang.
Karena bagi Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa dan seluruh timnya, tugas bukan hanya menyelesaikan proyek, tetapi menanam benih kesejahteraan yang akan terus tumbuh subur di bumi Jeneponto.










