Presiden Joko Widodo, dalam rapat kabinet pada 18 Juni, meminta jajarannya melakukan berbagai upaya untuk menyalurkan bantuan untuk UMKM tersebut.
Dalam video rapat kabinet yang dirilis hari Minggu (26/06) lalu itu, Jokowi mewanti-wanti agar jangan sampai stimulus ekonomi itu cair justru ketika UMKM sudah gulung tikar.
Syahnan menilai, lembaga pemerintah semestinya bisa menyerap produk UMKM melalui proses pengadaan barang dan jasa. Ia menilai metode ini akan memberikan dampak langsung yang positif untuk UMKM.
"Kalau UMKM kesulitan masuk ke proses pengadaan, bantu mereka. Dahulukan produk UMKM. Itu salah satu upaya membantu yang luar biasa," ujar Syahnan saat dihubungi.
"UMKM kan bisa berharap kepada negara karena negara memang punya uang."
"Kalau perlu, ubah cara lelang supaya produk UMKM yang diutamakan. Jangan gunakan cara lama, sampai kapanpun UMKM tidak akan mampu menang," kata Syahnan.
Presiden Jokowi mendesak jajarannya segera merealisasikan stimulus ekonomi untuk UMKM, sebelum para pelaku usaha itu tumbang dalam pandemi Covid-19.
Pendapat Syahnan itu sama seperti anjuran Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI), yang menyebut stimulus dalam bentuk permintaan akan membantu UMKM bertahan dalam krisis.
Berdasarkan survei Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, yang dilakukan 1-20 Mei lalu terhadap 679 responden di 24 provinsi, penjualan lebih dari 94% UMKM turun selama pandemi Covid-19.
Sebanyak 59% UMKM menurunkan harga jual produk dan jasa untuk mempertahankan usaha. Akibatnya, keuntungan 43% UMKM turun lebih dari 75%.










