Seiring dengan membaiknya situasi pandemi Covid-19, grafik pertumbuhan ekonomi pun bergerak dalam zona positif.
Pada kuartal IV Tahun 2021, lanjut Rudi, tercatat ekonomi tumbuh sebesar 5,02 persen setelah sebelumnya minus pada 2020. Kini pertumbuhan mencapai 3,69 persen sepanjang 2021.
Kendati demikian, menurut Rudi, kepuasan publik sempat turun di angka 70,3 persen pada survei November 2021 lalu setelah mencapai rekor 80,2 persen pada Mei 2021.
Di sisi lain, di tengah kepuasan publik atas kinerja pemerintahan Jokowi yang tinggi, Rudi mengingatkan realitas di lapangan bisa saja tampak berbeda.
Sebagai contoh, misalnya, kondisi minyak goreng langka dengan harga cukup mahal yang menimbulkan antrean panjang di sejumlah daerah. Demikian pula dengan harga kedelai dan daging sapi yang naik.
"Pandemi masih menimbulkan masalah pada rantai pasok secara global, ditambah dengan faktor-faktor domestik lainnya yang berpengaruh pada rentannya ketahanan pangan di dalam negeri," paparnya, melansir Antara.
Situasi perang di Ukraina juga berpotensi menambah gejolak kenaikan harga komoditas, termasuk pangan dan energi.
Oleh karena itu, Rudi menilai Pemerintah masih mempunyai banyak pekerjaan rumah untuk menjaga ketersediaan barang-barang dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
"Jika tidak diatasi dengan baik, bisa jadi kepuasan publik akan stagnan atau bahkan melorot," tandasnya.
Survei Y-Publica dilakukan pada 24 Februari hingga 4 Maret 2022 terhadap 1.200 orang yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia.










