Aktifitas Warga Terhenti Setelah Gunung Semeru Letuskan Awan Panas

Aktifitas Warga Terhenti Setelah Gunung Semeru Letuskan Awan Panas

Gabriel

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini. id, Jakarta - Gunung Semeru terpantau meletuskan dua kali awan panas pada Rabu, 9 November 2022 pukul 12.00 - 18.00 WIB menurut hasil pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mengakibatkan terhentinya aktivitas warga desa Curah Kobokan, Lumajang, Jawa Timur.

"Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru yang kami terima bahwa terjadi awan panas letusan sebanyak dua kali dengan amplitudo 28-30 mm," kata Kepala Bidang Kedaruratan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Lumajang Joko Sambang.

Lima kali letusan dengan amplitudo 14-22 mm dan gempa tektonik jauh satu kali dengan amplitudo 25 mm menunjukkan aktifitas kegempaan Gunung Semeru.

"Untuk pemantauan secara visual Gunung Semeru tertutup kabut dan asap kawah tidak teramati, kemudian untuk letusan juga tidak teramati," tuturnya seperti yang dilansir Liputan 6.

Dia juga mengimbau warga untuk tidak melakukan aktifitas apapun dalam jarak 13 km di sepanjang Besuk Kobokan dari pusat erupsi karena Gunung Semeru saat ini berstatus siaga level III.

Pada jarak 500 meter dari tepi sungai, warga juga diharapkan tidak melakukan aktifitas karena berpotensi terlanda perluasan awan panas serta aliran lahar dari puncak hingga jarak 17 km lanjutnya lagi.

Selain itu, aktifitas dari jarak 5 km di bawah kawah Gunung Semeru juga rawan bahaya karena berpotensi terkena lemparan batu pijar, untuk itu ia meminta pemberhentian aktifitas warga sekitar.

Warga juga diminta waspada terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lahar dan larva di sekitar aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.

"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ucapnya.

Umumnya, erupsi Gunung Semeru berupa letusan gunung berapi dan abu strombolian yang terjadi tiga hingga empat kali setiap jam.

Letusan vulkanik biasanya ditandai dengan eksplosif yang terkadang dapat menghancurkan kubah serta lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya kemudian akan terjadi letusan strombolian yang biasanya diikuti dengan kubah dan lava baru.

Saat letusan eksplosif terjadi biasanya aliran awan akan mengalir ke lembah-lembah yang lebih rendah menuju ke arah aliran pembukaan kawah dan lembah Gunung Semeru.

Sumber: Liputan 6 dan Antara News