Terkini.id, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj melarang adanya campur tangan Pemerintah dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar NU yang baru di Muktamar, Lampung.
"Kalau ada (campur tangan), kita sayangkan. Jangan sampai instansi pemerintah ikut campur dalam Muktamar NU atau menghilangkan kredibilitas," kata Said Aqil, dikutip dari CNN Indonesia, Kamis 11 November 2021.
Ketika ditanya soal isu Kementerian Agama yang diduga memesan hotel di sekitar area muktamar, Said hanya tertawa.
Dia cuma khawatir pemerintah dan PBNU dirugikan jika hal itu terjadi. Menurutnya, kredibilitas dua institusi akan rusak jika ada yang campur tangan pada muktamar.
"Kalau pemerintahan, kementerian, ikut campur dalam persoalan mobilisasi massa, wah rusak, mobilisasi suara, rusak ini," ujar putra kedua dari KH. Aqil Siradj itu.
Sebelumnya, dua tokoh NU menyatakan siap maju dalam Muktamar PBNU. Selain Said, ada Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf yang mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU.
Diketahui jelang Muktamar NU, Wakil Ketua PWNU Lampung Muhammad Irfandi mengatakan ada oknum Kemenag yang memborong kamar hotel di Bandar Lampung. Ia menyebutkan jika hotel dipesan pada waktu Muktamar digelar nantinya.
"Saya mempertanyakan, kenapa negara seakan mengindikasikan melakukan sabotase terhadap kegiatan ini, sehingga mereka memborong tingkat hunian hotel yang bertepatan dengan agenda Muktamar," beber Irfandi dalam keterangan tertulis, Senin 8 November lalu.
Menanggapi isu tersebut, Kementerian Agama membantah klaim soal intervensi Muktamar PBNU. Bantahan disampaikan langsung oleh Yahya Staquf.
"Kita lihat yang nuduh siapa, dasarnya apa? Memang benar? Nanti kalau dipolisikan, cari materai lagi," kata Yahya di kediamannya di Jakarta Selatan, Rabu 10 November 2021.










