Dwi juga menjelaskan bahwa Prodi Kedokteran Hewan Unhas menjadi salah satu prodi favorit dengan tingkat peminat dan proses seleksi yang tinggi.
“Dengan dibukanya mata kuliah ini, otomatis ada satu cabang keilmuan lagi bagi mahasiswa dan alumni untuk berpartisipasi setelah lulus," ujarnya.
Sementara itu, Perwakilan JAAN Domestic Indonesia, drh Merry, mengatakan Unhas menjadi pionir meski sudah ada beberapa universitas lain yang menyiapkan MoU untuk mata kuliah serupa.
Menurut dia, mata kuliah ini untuk menyiapkan dokter hewan yang mampu menangani manajemen populasi dan kesehatan hewan di shelter.
"Sudah ada 3 sampai 4 universitas yang ber-MoU untuk menjalankan mata kuliah yang serupa, tapi kita mulai di Universitas Hasanuddin sebagai pionirnya," tuturnya.
Dirinya mencatat jumlah komunitas penyelamat hewan secara nasional terus meningkat. Sehingga kebutuhan tenaga profesional di shelter semakin besar.
"Jumlah angka dari Shelter ataupun Independent Rescue itu semakin meningkat. Satu komunitas itu bisa merawat 50-70 ekor, tapi mereka belum berbadan hukum," ujarnya.
"Kami ingin ada mata kuliah Shelter Medicine karena tidak hanya fokus pada perawatan kesehatan, tapi juga operasional rumah penampungan,"sambung Merry.
Sedangkan, Tokoh Nasional Kesejahteraan Hewan drh Wiwiek Bagja menyebut isu over populasi hewan menjadi tantangan besar di Indonesia saat ini. Sementara pemerintah daerah belum optimal dalam pengawasan.
"Tiba-tiba jadi overpopulasi, ada di mana-mana dan pemerintah kita masih pusing soal pangan bangsa tidak siap mengatasi over populasi ini. Kalau Anda bertanya, adakah pengawasan pemerintah? Minim," tegasnya.
Wiwiek menuturkan KUHP baru telah memuat aturan mengenai kejahatan hewan, dan rancangan Undang-Undang Perlindungan Hewan telah masuk Prolegnas 2026. Ia berharap Sulawesi Selatan tidak tertinggal dalam isu kesejahteraan hewan.










