"Dimana dalam desain kaosnya l, saya mencoba meracik kata-kata lokal yang memiliki nilai-nilai positif atau kesan-kesan yang bernilai baik," terangnya.
"Kami juga mengusung sebuah slogan yakni saatnya kita bergerak. Bergerak dan lestarikan budaya, apa pun itu bidangnya kita, karena itu adalah jati diri kita," sambungnya.
Jatuh Hati pada Kultur
Ditanya soal latarbelakang, Rudi menjelaskan jika dirinya jatuh hati pada kultur. Ia mengaku tenang dan sejuk jika mendengar kisah-kisah budaya terdahulu.
"Saya jatuh hati dengan kultur. Tenang rasanya, sejuk jika mendengar kisah-kisah budaya dulu yang biasa diperdengarkan oleh Almarhum kakek saya. Ada kerinduan,"katanya.

Belum lagi Rudi mengaku lahir di Kajang dimana ia pahami bahwa Kajang bagian dari kisah kecil peradaban yang tersisa. Kajang adalah karakter bagi baginya.
"Mata hati selalu merasa malu jika orang di luar sana bercerita tentang kultur smentara kita sendiri yang betul-betul lahir di jantung yang dikisahkan baru kita tidak tau apa apa,"pungkasnya.
"Selain itu, saya prihatin dengan perkembangan jaman dimana kita lebih menyukai kesan kata-kata berbahasa Asing daripada bahasa lokal. Saya mencoba meracik bahasa lokal supaya terlihat keren," terangnya lagi.

Terbukti di Omah Dompea tampak perpaduan dengan beberapa pakaian umum merek-merek brand internasional.
"Karena saya ingin memperlihatkan ke khalayak umum bahwa lokal juga bisa bersanding dengan brand-brand terkenal. Ini juga untuk menutupi pemasukan atau pendapatan karena saya paham bahwa kata-kata lokal tidak segampang itu dilirik oleh kalangan anak muda, hanya segelintir saja sehingga perlu melakukan edukasi dan kreatifitas yang tinggi untuk menarik pelanggan," urainya.
"Lewat baju, saya ingin mengingatkan ke semua kalangan bahwa kita punya culture kearifan lokal yang sangat luar biasa. Setidaknya saat kita membaca tulisan di kaos, kita akan teringat dengan kultur kita (pasang pasang tau riolo)," lanjutnya lagi.

Masih lanjut Rudi, ia mengaku pernah ke Jawa dan masuk ke dalam jantung kota sebelum bertolak ke destinasi wisatanya.
"Saya pernah ke Jawa dan tiap masuk di jantung kota sebelum menuju ke destinasi wisatanya, baik itu pantai dan wisata budaya pasti ada oleh-oleh di inti kotanya sehingga kalau di Bulukumba dicanangkan sebagai destinasi wisata, Omah Dompea akan jadi solusi untuk mendapatkan oleh oleh," pungkas Rudi.
Fasilitas Omah Dompea
Toko kaos khas Omah Dompea sendiri memiliki fasilitas WiFi. Diakui Rudi jika saat ini ia bersama istri tercintanya sementra proses penggarapan untuk mengumpulkan produk-produk karya anak Blukumba, baik kerajinan dan olahan.
Ia juga menyebutkan akan ada rencana akan jadi rumah singgah bagi pelancong.
Dimana akan ada galery produk di dalamnya. Tiap produk akan dicantunkan masing-masing nama pembuat dan nomor kontaknya.
"Jadi, orang-orang yang datang bisa langsung terkoneksi ke pembuatnya jika minat untuk diproduksikan lebih banyak tinggal menghubungi nomor yang ada di situ. Selain itu, rencana ada satu ruangan khusus untuk latihan seni dan Warkop serta lesehan makanan bernuansa klasik," katanya.

Produk Oleh-oleh di Omah Dompea
Bagi para pelancong yang berkunjung ke Bulukumba dan ingin membawa pulang buah tangan, mampirlah di Omah Dompea.
Di sini tersedia berbagai jenis produk, seperti sarung khas Kajang, sal Kajang, tas-tas kerajinan khas Kajang, kopi Anrang dari desa Anrang Rilau Ale', kerajinan lampu-lampu penerang ruangan dari daeng Illang Puang Ria' purinayya.
Ada lagi beberapa yang akan hadir seperti produk dari komunitas Kerenisme dan ada juga nanti buku dari penulis anak-anak Bulukumba.
"Kue merah kalau dikemas baik-baik tinggi juga nilai jualnya serta unik. Sementara digarap," ujarnya.
Terakhir, Rudi mengaku percaya jika anak-anak muda di Bulukumba bisa berkarya dalam bentuk sebuah produk lokal baik itu kerjaninan dan olahan, hanya saja kurang tempat yang bisa dijadikan ruang sebagai perkenalan/ promosi prodak ke khalayak umum.
Kalaupun ada, hanya sebatas formalitas kalau adabkegiatan-kegiatan yang bersifat sementara, seperti seminar, pameran atau pun kegiatan lainnya.

"Dengan adanya galery Omah Dompea saya ingin patenkan dan bersifat jangka panjang dan galery ini akan menjadi pusat distribusi offline," tuturnya.
Ia juga berharap ke pemerintah agar ada sistem pemasaran yang bersifat online.
"Pemerintah jangan cuman mensupport yang bersifat motivasi tanpa ada bukti kongkrit ke anak-anak muda yang punya karya. Kemudian berharap kalau bisa ada khusus hari di Bulukumba semua dinas-dinas kantor memakai pakaian serba hitam,"harapnya.










