Ini Proyeksi Bank Indonesia Terkait Ekonomi Sulsel Tahun 2025 dan Perkiraan Inflasi

Ini Proyeksi Bank Indonesia Terkait Ekonomi Sulsel Tahun 2025 dan Perkiraan Inflasi

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Dalam sambutannya, Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa BI optimistis pertumbuhan ekonomi nasional 2025 dan 2026 akan melanjutkan tren perbaikan setelah pandemi covid-19. BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai 4,8 hingga 5,6 persen pada tahun 2025 mendatang, dan 4,9 hingga 5,7 persen pada 2026 mendatang.

Didukung Kinerja Inflasi yang Terkendali

Khusus di Sulawesi Selatan, kinerja ekonomi juga banyak didukung oleh inflasi yang rendah dan terkendali. Secara konsisten, tingkat inflasi Sulsel selalu terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5%±1% sejak awal tahun 2024.

Bahkan, inflasi Sulsel pada Oktober 2024 tercatat 1,53% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional sebesar 1,71% (yoy). Meskipun masih terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti emas perhiasan, sigaret kretek mesin, dan kontrak rumah, namun harga sejumlah komoditas pangan strategis seperti cabai rawit, tomat, beras, dan cabai merah mampu dikendalikan dengan baik.

"Untuk itu, kami haturkan apresiasi dan terima kasih atas sinergi dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah, yang secara aktif mendorong inovasi pengendalian inflasi di Sulsel, serta dukungan kebijakan pada program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan," ungkap Wahyu dalam pertemuan di Makassar.

Wahyu juga menyebutkan berbagai upaya Bank Indonesia dan pihak terkait dalam upaya memacu investasi di Sulawesi Selatan, seperti membangun Forum Pinisi Sultan dengan menyelenggarakan South Sulawesi Investment Forum dengan mempertemuan investor dari luar negeri dengan pelaku bisnis di Sulsel.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen di Sulsel

Memperhatikan kondisi tersebut, Bank Indonesia pun memprakirakan perekonomian Sulawesi Selatan pada tahun 2024 mampu tumbuh di kisaran 4,7% - 5,5% (yoy), diikuti dengan tingkat inflasi yang terkendali atau mendekati batas bawah sasaran target sebesar 2,5±1%.