Hari Hemofilia Sedunia 2026, RSUP Wahidin Tekankan Deteksi Dini dan Akses Perawatan

Hari Hemofilia Sedunia 2026, RSUP Wahidin Tekankan Deteksi Dini dan Akses Perawatan

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar - RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menggelar seminar kesehatan dalam rangka memperingati Hari Hemofilia Sedunia 2026 yang berlangsung di Auditorium Lantai 8 Gedung Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan tenaga kesehatan terkait pentingnya deteksi dini, diagnosis akurat, serta penanganan tepat terhadap gangguan perdarahan, khususnya Hemofilia.

Seminar tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, BPJS Kesehatan, organisasi profesi, hingga komunitas hemofilia, penyintas, dan keluarga pasien.

Direktur Utama RSUP Wahidin Sudirohusodo, Annas Ahmad, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap pasien hemofilia.

“Peringatan ini adalah momentum kemanusiaan untuk memastikan setiap penyandang hemofilia memiliki hak yang sama untuk dikenali, didiagnosis, dirawat, dan memiliki harapan hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tema global tahun ini, “Diagnosis: First Step to Care”, menegaskan bahwa diagnosis merupakan pintu awal menuju perawatan yang tepat. Namun, berdasarkan data World Federation of Hemophilia, lebih dari tiga perempat penyandang hemofilia di dunia diperkirakan belum terdiagnosis.

“Tanpa diagnosis, tidak ada jalan menuju perawatan. Tanpa perawatan, kualitas hidup pasien akan terancam,” tegasnya.

Menurutnya, hemofilia merupakan penyakit yang tidak selalu tampak secara kasat mata, tetapi berdampak signifikan terhadap kualitas hidup, mulai dari perdarahan berulang, nyeri sendi, keterbatasan gerak, hingga risiko kecacatan serta beban psikologis dan ekonomi.

Di Indonesia, tantangan diagnosis masih cukup besar. Data menunjukkan bahwa pada 2018 tercatat sekitar 2.098 pasien hemofilia, namun angka tersebut diperkirakan baru sekitar 10 persen dari total kasus sebenarnya.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional di kawasan Indonesia Timur, RSUP Wahidin memiliki peran strategis dalam memperkuat layanan hemofilia, mulai dari deteksi dini hingga kesinambungan terapi.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Annas menegaskan empat komitmen utama rumah sakit, yakni memperkuat diagnosis dini dan akurat, meningkatkan layanan multidisiplin, memperkuat edukasi keluarga dan komunitas, serta memperbaiki sistem rujukan dan akses terapi.

“Setiap episode perdarahan membutuhkan respons cepat. Keterlambatan penanganan dapat berujung pada nyeri hingga kecacatan permanen,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, RSUP Wahidin berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan penanganan hemofilia semakin meningkat, sehingga kualitas hidup pasien dapat terus ditingkatkan.