Erdogan Bangun Tembok untuk Halau Pengungsi Afghanistan, Ferdinand: Turki Sangat Paham Peta Teroris

Erdogan Bangun Tembok untuk Halau Pengungsi Afghanistan, Ferdinand: Turki Sangat Paham Peta Teroris

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Penguasaan kelompok Taliban atas Afghanistan telah menimbulkan kekhawatiran baru atas masuknya migran ke Turki lewat perbatasan Iran.

Turki, yang berbagi perbatasan 534 kilometer (331 mil) dengan Iran, telah meningkatkan keamanan di perbatasannya dan mulai membangun tembok sepanjang 243 kilometer dalam upaya untuk mencegah masuknya migran ilegal dari Afghanistan.

Sebuah tembok beton sepanjang 243 kilometer (151 mil) yang dilengkapi kawat berduri di atasnya dan dikelilingi oleh parit, sedang didirikan di sepanjang perbatasan 534 kilometer dengan Iran.

Pejabat Turki mengatakan kepada AFP bahwa sepanjang 156 kilometer perbatasan telah dibangun tembok pembatas, dan terbukti ambuh untuk membatasi arus migran.

Untuk diketahui, pasca-Taliban kembali menguasai Afghanistan pada Minggu, 15 Agustus 2021, ribuan warga yang diliputi ketakutan berusaha melarikan diri dari negaranya.

Ketika Taliban memerintah Afghanistan dari 1996 hingga 2001, perempuan di sana tidak dapat bekerja dan anak perempuan tidak dapat bersekolah.

Penggiat media sosial, Ferdinand Hutahaean, mengungkapkan, Turki sangat mengerti apa yang terjadi di Afganistan dan sangat paham dengan yang namanya taliban serta sangat mengerti pera teroris global.

"Jadi tembok itu pasti punya tujuan bahwa Erdogan lebih memilih menjaga bangsanya dari banyaknya ancaman yang menambah masalah di negerinya," ungkap Ferdinand dikutip dari status twitternya.

Berkoordinasi dengan Rusia

Selain membangun tembok, diketahui Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga membangun komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas situasi di Afghanistan. Mereka diketahui berbicara dalam panggilan telepon pada Sabtu, 21 Agustus 2021.

Keduanya sepakat untuk memperkuat koordinasi bilateral mengenai masalah-masalah Afghanistan, menurut pernyataan yang dikeluarkan Kremlin.

Kedua pemimpin itu juga menekankan prioritasnya seperti kontra-terorisme dan menangani perdagangan narkoba.

Erdogan menyuarakan harapannya untuk transisi lunak di Afghanistan. Ia menyampaikan bahwa penting agar Taliban tidak mengulangi kesalahan sebelumnya dan menepati janji mereka dengan pendekatan inklusif etnis.

"Pemerintah baru yang akan dibentuk di Afghanistan harus inklusif dan mewakili keragaman rakyat Afghanistan," kata Erdogan kepada Putin menurut pembacaan setelah panggilan telepon tersebut, dikutip dari Reuters.

Diberitakan Pikiran-rakyat.com sebelumnya, Vladimir Putin meminta komunitas internasional untuk mencegah runtuhnya negara Afghanistan setelah dikuasai Taliban.

"Gerakan Taliban menguasai hampir seluruh wilayah negara itu," kata Vladimir Putin saat konferensi pers dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Jumat, 20 Agustus 2021.

"Ini adalah kenyataan dan dari kenyataan inilah kita harus melanjutkan, mencegah runtuhnya negara Afghanistan," ujarnya.

Presiden Rusia berusia 68 tahun itu juga mengkritik "kebijakan tidak bertanggung jawab" yang memaksakan "nilai-nilai luar" di Afghanistan yang dilanda perang.

"Anda tidak bisa memaksakan standar kehidupan dan perilaku politik pada orang lain dari luar," kata Putin.

Dia juga menyoroti pentingnya mencegah teroris memasuki negara-negara tetangga dari Afghanistan, termasuk dengan kedok sebagai 'pengungsi'.

Sejauh ini, Taliban tidak menawarkan secara spesifik tentang bagaimana mereka akan memimpin Afghanistan. Mereka menyebut hukum akan dipandu oleh hukum Syariah, atau hukum Islam.

Taliban yang sempat berkuasa pada 1996-2006, mengklaim tidak akan membalas dendam terhadap musuh lama dan akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam.

Semasa tahun 1996-2006, Taliban sangat membatasi hak-hak perempuan, melakukan eksekusi di depan umum dan meledakkan patung-patung Buddha kuno. Mereka kemudian digulingkan dalam invasi pimpinan AS tahun 2001.