Terkini.id, Jakarta - Di balik keindahannya sebagai destinasi wisata, Turki memiliki kisah kelam tentang warganya yang tercatat sebagai pemeluk Islam namun sesungguhnya seorang ateis (tak percaya Tuhan).
Melansir dari Kompas.com, tercatat di Diyanet; Direktorat Urusan Agama di Turki, pada tahun 2021, warga Turki yang teridentifikasi sebagai muslim adalah sebesar 99%.
Otomatis, Islam menjadi agama mayoritas di negara yang dipimpin oleh Erdogan ini. Namun, apakah para pemeluk Islam ini benar menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang mereka anut?
Hanya Merasa Islam Secara Kultural dan Sosiologis Menciptakan Generasi Islam KTP
Menilik pada sejarah masa lalu Turki yang erat dengan Kekaisaran Muslim adidaya, Ottoman, secara tak langsung negara yang berada di perbatasan Asia - Eropa itu dilabeli sebagai negara Islam.
Selama masa Ottoman, Turki tumbuh menjadi sebuah wilayah dengan fanatisme tinggi terhadap praktik keagamaan Islam.
Namun, setelah kekalahan Kesultanan Ottoman hingga revolusi kemerdekaan yang menjadikan Turki sebuah Republik, segalanya berubah.
Sosok Mustafa Kemal Ataturk, presiden pertama Turki menjadi tokoh utama yang disebut ingin menjadikan negaranya menganut paham sekuler.
Dikutip dari buku Sejarawan Edward J Erickson : Leadership, Strategy, Conflict (2013) menguraikan tentang Kemal Ataturk dan pandangannya terhadap Islam — yang kemudian menjadikan generasi Islam KTP tumbuh subur di sana.
Pada 2 Maret 1924, Kemal mendorong beberapa Rancangan Undang-Undang (RUU) melalui parlemen baru.
Secara bertahap dia mengakhiri sekolah agama, melarang penggunaan jilbab untuk perempuan, serta mencabut larangan konsumsi alkohol.
Meskipun Islam tercatat sebagai agama resmi, namun nilai-nilainya telah ditinggalkan, sehingga generasi selanjutnya mengenal Islam sebatas bagian kultur budaya dan kehidupan sosial, bukan keimanan.
Generasi muda Turki bahkan terang-terangan menyebut diri mereka tidak mempercayai keberadaan Tuhan atau ateis.
Erdogan dengan Paham Islam Konservatif untuk Perubahan Turki
Tahun 2014, Recep Tayyip Erdogan resmi menjabat sebagai Presiden Turki, setelah menduduki jabatan Perdana Menteri sejak 2003.
Ia mulai menghidupkan kembali sekolah-sekolah agama, juga mewajibkan Islam sebagai bagian mata pelajaran umum.
Pencabutan larangan berhijab untuk wanita, penetapan pajak tinggi dan pelarangan iklan untuk alkohol, hingga penetapan kembali Sophia Hagia sebagai masjid untuk beribadah merupakan keputusan-keputusan beraninya.
Hasil dari kebijakan kontroversialnya yang bertentangan dengan Kemal Ataturk yang memimpin lebih dari satu abad lalu mulai menunjukkan hasil.
Penduduk Turki mulai kembali pada ajaran-ajaran Islam konservatif dengan paham Sunni sebagai mayoritas.
Keberhasilan Erdogan membangkitkan kembali Islam di negerinya sekaligus berpengaruh pada negara-negara lain di benua Eropa membuatnya menjadi pemimpin Muslim terpopuler di dunia versi Gallup International.










