Terkini.id, Beijing - Bahaya! China kena krisis hebat, industri dan warganya kena dampak loh. Pasca kasus kebangkrutan raksasa properti Evergrande, badai krisis nyatanya masih belum selesai menyerang China. Pasalnya, Negeri Panda tersebut harus menghadapi krisis energi yang cukup mematikan.
Warga di beberapa provinsi utara kini dilanda pemadaman listrik. Hal tersebut terjadi setidaknya di Provinsi Guangdong, pusat-pusat industri di China. Tidak hanya itu, pemadaman juga terjadi di Liaoning, Jilin, dan Heilongjiang.
Warga mengalami pemadaman listrik selama akhir pekan. Sekarang, orang-orang diminta untuk mengatur pengatur udara atau air condition (AC) mereka di atas 26 derajat celcius agar pasokan bisa tetap terjaga.
Bukan hanya listrik, warga juga harus bersiap mengantisipasi pemadaman air. Media China, Caixin melaporkan, kantor administrasi Guangdong mengeluarkan pemberitahuan kepada industri untuk membantu mencegah pemadaman meluas.
Salah satunya dengan menghindari penggunaan lift dan beralih ke tangga, paling tidak untuk tiga lantai pertama. Pusat perbelanjaan juga diminta menghemat iklan billboard atau papan iklan yang memakan banyak daya listrik.
“Situasi ini diperkirakan akan terus terjadi hingga Maret tahun depan," demikian diwartakan Bloomberg via CNBCIndonesia, Senin 27 September 2021.
Sejatinya, konsumsi listrik China memang telah tumbuh meningkat seiring penguatan ekonomi. Kendati demikian, misi pemerintah membatasi emisi karbon, membuat situasi menjadi ‘kurang konsusif’.
Hal itu, juga berdampak pada ditutupnya sebagian besar pembangkit listrik tenaga fosil. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional pada akhir pekan menyebut, kelangkaan energi itu telah mengganggu produksi sejak Juni 2021.
Pupuk adalah salah satu sektor yang paling terpukul. Pasalnya, industri ini sangat bergantung terhadap gas, dan meminta produsen energi utama negara guna memenuhi kontrak pasokan penuh kepada mereka.
Dampak lebih luas, setidaknya 15 perusahaan mengatakan produksi mereka telah terganggu. Ini termasuk produsen bahan baku seperti aluminium, tekstil, dan kedelai.
“Ini termasuk Yunnan Aluminium sebuah unit dari grup logam milik negara China, Chinalco. Perusahaan telah memangkas target produksi aluminium 2021 lebih dari 500 ribu ton atau hampir 18 persen,” demikian laporan Reuters.
Sementara itu, pada pekan lalu di sidang PBB, Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali target yang cukup ambisius dalam mengurangi emisi karbon pada 2030.
Jinping sendiri berencana untuk mulai menghentikan operasional pembangkit batu bara dan menggantinya dengan energi terbarukan.
Kendati demikian, untuk mencapai target itu dibutuhkan pembangunan100 giga watt pembangkit tenaga surya dan 50 giga watt tenaga angin setiap tahun untuk menyeimbangkan kenaikan konsumsi sebesar lima persen.
Sejatinya, hal ini jauh dari pertumbuhan energi terbarukan tahunan China yang baru mencapai setengah dari itu.
“Pertumbuhan China telah didorong selama beberapa dekade sama kredit dan karbon, dan Beijing akhirnya tampaknya mulai serius untuk mengubahnya,” beber ekonom Bloomberg, David Fickling.
Sebelumnya, krisis serupa sudah terjadi di Inggris. Negeri monarki yang dipimpin Ratu Elizabeth itu mengalami krisis energi lantaran keputusannya untuk pindah ke gas alam dari batu bara guna mengurangi emisi.
Hal itu juga membuat kenaikan tajam gas alam dan menaikkan biaya listrik. Bukan hanya listrik, hal ini berdampak terhadap pasokan makanan dan bangkrutnya sejumlah perusahaan lantaran tidak sanggup membayar listrik untuk energi.










