Terkini.id, Kabul - Waspadai janji manis Taliban, Afghanistan ingatkan China soal ekstremis Uighur di Xinjiang. Afghanistan memperingatkan China agar tidak mudah percaya janji Taliban untuk tidak menampung militan Islam yang melakukan separatisme di Xinjiang.
Hal tersebut diungkapkan Duta Besar Afghanistan untuk China, Javid Ahmad Qaem usai Beijing menjamu pejabat Taliban pekan lalu.
Akhir bulan lalu, seperti dilansir CNNIndonesia, Senin 9 Agustus 2021, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, bertemu dengan perwakilan Taliban di Tianjin dan meminta dibantu untuk melawan kelompok ekstremis Uighur di Xinjiang, East Turkestan Islamic Movement (ETIM).
Taliban sudah berjanji tidak akan ikut campur dalam urusan internal China atau mengizinkan wilayah Afghanistan digunakan pasukan anti China.
“Saya tidak habis pikir, bahkan China percaya hal itu,” terang Javid Ahmad Qaem kepada Reuters, Kamis 6 Agustus 2021.

Taliban, sebut Qaem, hanya mengatakan hal tersebut untuk menggaet dukungan.
Dalam konflik ini, China tidak hanya mendukung Afghanistan namun juga pihak lain. Sikap ini berbeda dengan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (kini Rusia) di masa lalu. Dalam posisi ini, mereka hanya mendukung satu pihak.
Tiongkok menerapkan prinsip ‘Afghan-led, Afghan-owned’ yang sejalan dengan prinsip non intervensinya.
“Posisi China adalah mereka ingin menengahi,” ungkap Qaem.

Pemerintah Afghanistan yang didukung AS menyambut baik keterlibatan China. Qaem juga memahami mengapa China ingin tetap berada di tengah dengan sikap netral.
Namun, ia tidak percaya akan janji Taliban untuk melawan sesama kelompok milisi dari Xinjiang.
“Itu ideologi yang sama. Bagaimana Anda bisa mengharapkan seseorang dengan pemikiran yang sama melawan orang lain, yang memiliki pemikiran sama?” imbuh Qaem.
Kelompok yang bertekad menjadikan Xinjiang sebagai negara Islam itu memang dianggap PBB, Uni Eropa, dan beberapa negara lain secara khusus, seperti Malaysia, Pakistan, Rusia, Turki, Inggris, dan Uni Emirat Arab sebagai teroris.










