Veronica Koman: Komando Sentral OPM Itu Menghormati Nakes dan Guru

Veronica Koman: Komando Sentral OPM Itu Menghormati Nakes dan Guru

R
Resty

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Veronica Koman mengatakan bahwa komando Organisasi Papua Merdeka (OPM) menggormati tenaga kesehatan (nakes) dan guru.

Veronica mengatakan itu sebagai respons terhadap kasus penyiksaan dan pembunuhan nakes yang disebut dilakukan oleh OPM atau yang dikenal dengan nama Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

"Bukan hanya saya yang menganggap peristiwa Kiriwok anomali," katanya melalui akun Twitter VeronicaKoman pada Minggu, 19 Februari 2021.

"Komando sentral OPM itu menghormati nakes dan guru," sambung perempuan yang memang sering menyuarakan isu Papua itu.

Oleh sebab itulah, Veronica Koman menilai bahwa peristiwa pembunuhan nakes itu butuh investigasi lebih jauh.

Utamanya, terkait motif, pemicu, dan kronologi supaya peristiwa tersebut jangan sampai terulang lagi.

Dalam cuitannya, Veronica Koman juga membagikan pernyataan dari Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey.

Frits mengatakan bahwa motif pelaku pembakaran sejumlah fasilitas publik di Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) patut dipertanyakan.

Pasalnya, manurut Frits, jika melihat sejarah perjuangan TPNPB/OPM selama ini, mereka tidak pernah mereka merusak fasilitas sekolah dan fasilitas kesehatan.

“Dalam sejarah itu tidak ada. Kalau mereka patuh kepada Goliat Tabuni, patuh kepada Amos Sarondanya, patuh kepada Demianus Yogi. Ketiga pimpinan ini telah mengeluarkan instruksi untuk tidak melakukan tidakan kekerasan," katanya pada Sabtu, 18 September 2021, dilansir dari Jubi.

"Kalau mereka masih melakukan tindakan secara sepihak, ini patut dipertanyakan," sambungnya.

Sebelumnya, peristiwa pembakaran sejumlah fasilitas umum oleh pihak yang diduga KKB Papua terjadi di Distrik Kiwirok, Pegubin pada 13 September 2021.

Dalam aksi itu, seorang tenaga kesehatan (nakes) bernama Gabriel Melani wafat. Jenazah ditemukan di dalam jurang beberapa hari setelah kejadian.

Aparat keamanan menyatakan bahwa sebelum meninggal, korban dianiaya dan dilecehkan oleh KKB Papua.

Dikatakan pula bahwa beberapa nakes lain juga mengalami penganiayaan namun berhasil menyelamatkan diri.