Terkini, Jeneponto – Tanggal 1 Juni memiliki makna yang sangat istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai momen diperingatinya Hari Lahir Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, hari ini adalah pengingat akan akar dan identitas bangsa. Namun, bagi Keisha Ratu Utami, siswi asal Kabupaten Jeneponto yang kini sedang bersiap melangkah menuju ajang seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional Tahun 2026, peringatan ini bukan sekadar hari besar nasional semata. Hari Lahir Pancasila telah bertransformasi menjadi sumber semangat dan pondasi motivasi terkuat yang menopang langkahnya di tengah berbagai cobaan dan rintangan yang menghadang.
Perjalanan Keisha hingga sampai ke titik ini tidaklah berjalan mulus tanpa goncangan. Sebagai perwakilan dari daerah, ia telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan yang ketat, ujian kemampuan fisik dan mental, hingga bermacam isu serta pandangan yang berkembang di masyarakat yang sempat menguji ketenangannya. Di saat itulah, peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh tepat di momen perjuangannya ini menjadi penanda waktu yang sangat berarti, sebuah momentum untuk kembali menguatkan tekad dan menyatukan hati.
Menurut gadis kelahiran 9 Mei 2010 ini, di tengah segala dinamika dan tantangan yang dihadapi, nilai-nilai luhur Pancasila tetap tertanam kokoh di dalam sanubarinya. Baginya, Pancasila bukanlah sekadar hafalan pelajaran sekolah atau tulisan yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar. Lebih dari itu, Pancasila adalah fondasi kehidupan yang nyata, yang menjadi pegangan utama dalam menjaga sikap, perilaku, serta ketangguhan mentalnya saat melintasi jalan terjal menuju cita-cita tertingginya.
“Di tengah berbagai tantangan dan perbedaan pandangan yang ada, saya menyadari bahwa nilai-nilai Pancasila adalah yang membuat saya tetap berdiri tegak dan tenang. Nilai itulah yang menjadi penyangga mental dan sikap saya dalam melewati setiap rintangan yang datang,” ungkap Keisha dengan pandangan yang tajam dan penuh keyakinan.
Sebagai calon pengibar bendera yang akan berkumpul bersama ratusan pemuda terbaik dari seluruh penjuru Tanah Air, Keisha juga belajar memaknai keberagaman Indonesia dengan cara yang paling mendalam. Ia menyadari bahwa nantinya di tingkat nasional, ia akan bertemu dengan rekan-rekan yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda: suku yang beragam, agama yang berbeda, budaya yang khas, hingga cara pandang yang beraneka warna.
Namun, dari kacamata nilai Pancasila yang ia pegang teguh, perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dan tidak seharusnya menjadi tembok pemisah atau jurang pemecah belah. Sebaliknya, perbedaan itulah yang justru menjadi kekuatan raksasa bangsa ini, sebuah kekayaan luar biasa yang mampu memperluas wawasan dan memperkaya jiwa keindonesiaan setiap insan di dalamnya.
“Perbedaan suku, agama, budaya, maupun perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi pemisah di antara kita. Justru itulah kekuatan kita, yang menjadi kekayaan bangsa dan mampu memperkaya wawasan kita semua,” ujar Keisha yang bercita-cita menjadi Polisi Wanita ini.
Momen peringatan Hari Lahir Pancasila ini juga menjadi waktu yang tepat bagi dirinya untuk kembali merenung dan meneguhkan kembali komitmen kebangsaan yang melekat di dalam hati dan jiwanya. Ia sadar betul bahwa menjadi bagian dari Paskibraka bukan hanya soal fisik yang tegap atau penampilan yang rapi, melainkan tentang menjadi pelopor dan teladan dalam mengamalkan nilai-nilai bangsa.
“Pancasila bagi saya bukan hanya sekadar dasar negara yang menjadi landasan pemerintahan, tetapi pedoman hidup yang nyata. Ia mengajarkan kita tentang persatuan di tengah perbedaan, tentang toleransi yang saling menghormati, serta tentang keadilan sosial yang harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali,” tegasnya.
Dengan semangat Pancasila yang kini membara lebih kuat di dada, Keisha Ratu Utami melangkah ke depan dengan lebih percaya diri dan tenang. Ia membawa serta nilai-nilai luhur tersebut sebagai bekal utama, yakin bahwa dengan menjadikan Pancasila sebagai kompas kehidupan, ia mampu menempuh setiap tahapan seleksi dengan kepala tegak, hati bersih, dan mental baja, mewakili harapan masyarakat Jeneponto dan Sulawesi Selatan di kancah nasional.










