Ungkap Alasan Perempuan Lakukan Aksi Teror, Peneliti: Itu Cara Mereka Balas Dendam

Ungkap Alasan Perempuan Lakukan Aksi Teror, Peneliti: Itu Cara Mereka Balas Dendam

Sukma A

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Teroris perempuan sedang disorot publik mengingat aksi teror yang terjadi belakangan ini melibatkan perempuan sebagai aktor utama.

Aksi bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 2021 dilakukan oleh sepasang suami istri yakni ML dan YSF.

Ada pun ZA, perempuan berusia 25 tahun yang melakukan penyerangan terhadap Markas Besar Polri, Rabu, 31 Maret 2021.

Peneliti Hukum dan HAM Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Milda Istiqomah mengungkapkan bahwa semakin kesini, peran perempuan dalam gerakan terorisme mulai bergeser hingga melibatkan secara langsung.

Milda mengatakan peran pertemuan, sebelum 2016, hanya berperan sebagai pembawa pesan, perekrutan, mobilisasi, dan alat propaganda.

"Namun, setelah 2016, mereka mulai lebih aktif," kata Milda, dikutip dari Tempo, Sabtu, 3 April 2021.

Kini, kata Milda, perempuan telah ikut serta dalam aksi ikut bom bunuh diri, menyediakan senjata, dan merakit bom secara langsung.

Milda menilai terjunnya perempuan langsung dalam aktivitas terorisme secara langsung dilihat dari kasus teror dari tahun 2016 sampai sekarang.

Kemudian dirinya membeberkan alasan mengapa perempuan secara langsung ingin terlibat dalam aksi teror.

Pertama adalah personal factors atau faktor pribadi di mana perempuan telah termakan ajaran doktrin paham radikalisme dan terorisme.

Kemudian ada faktor kedua yakni social-political concerns di mana Milda melihat adanya ketimpangan dan diskriminasi yang dialami perempuan.

"Karena adanya ketimpangan sosial, ketidakadilan, diskriminasi. Mereka mengalami itu," ucap Milda.

Faktor terakhir ialah karena faktor personal tragedy, di mana bisa saj perempuan telah menjadi korban pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya.

Milda pun mengatakan bahwa ketiga faktor tersebut kemudian melahirkan dendam tersendiri kepada wanita.

Oleh karena itu, aksi teror merupakan cara yang ditempuh perempuan untuk membalaskan dendam mereka.

"Di mana hal itu melahirkan dendam dan melakukan aksi teror adalah cara mereka balas dendam," ucap Milda.

Milda kemudian memberikan fakta di mana jumlah tahanan dan narapidana perempuan yang terlibat dalam terorisme dalam kurun waktu 10 tahun kebelakang sebanyak 39 orang.

Dengan angka ini, kata Milda, kita sudah sepatutnya untuk waspada.

"Jadi dengan angka ini bisa menjelaskan alasan kenapa kemudian keterlibatan perempuan menjadi wake up call atau warning buat kita," pungkas Milda.