Terkini.id, Jakarta - Penggiat media sosial, Denny Siregar kembali mengulas pergerakan dan aksi jaringan teroris di Makassar.
Menurut Denny, aksi bomber di Makassar punya kemiripan dengan yang terjadi di Filipina. Pelakunya adalah sepasang suami istri.
"Ada yang menarik dalam proses perekrutan di villa Mutiara Makassar itu. Sesudah JAD masuk ke dalam tubuh FPI, maka mereka membangun sistem perekrutan 'pengantin' dalam struktur yang lebih kecil, yaitu keluarga," tulis Denny Siregar.
Menurut dia, anggota anggota FPI diwajibkan membawa keluarga sekitar dan terdekatnya untuk terlibat dalam "pengajian" di villa Makassar itu.
"Gunanya sistem rekrut dengan model keluarga ini adalah supaya mereka bisa mengidentifikasi orang orang yang masuk dalam pengajian, berdasarkan rekomendasi.
Ini mirip sistem MLM. Si A sebagai bapak, wajib mengajak istri atau anak dalam 'pengajian'," ungkap Denny lagi.
Demikian halnya jika anggota tersebut adalah pasangan yang baru menikah. Wajib membawa pasangannya untuk masuk ke dalam.
Jika belum punya pasangan, maka akan dijodohkan dengan orang orang yang sudah terlibat di pengajian.
"Makanya bomber di Filipina dan Makassar itu adalah pasangan muda. Bahkan bomber di Makassar, yang wanita sedang hamil 4 bulan. Gila, ya ?," tambahnya lagi.
Denny pun mengungkapkan bagaimana model perekrutan calon teroris tersebut. Kata dia, supaya meyakinkan, maka model pengajiannya seperti pengajian biasa, sambil terus dipantau bibit-bibit barunya. Kemudian, nantinya disusupkan ideologi pembentukan negara Islam sebagai kewajiban seorang muslim yang taat pada agama. Level selanjutnya, mulai cuci otak dengan penggambaran bahwa negara ini thogut, polisi kafir dsbnya.
Ketika "anggota keluarga" tersebut hadir terus dalam pengajian, maka dimulailah pendekatan personal.
"Otak mereka dicuci terus dgn ayat dan hadis ttg jihad, cara masuk surga yang paling singkat, yang akan menghapus seluruh dosa-dosa mereka di dunia. Ini sangat efektif, krn yang masuk pengajian di villa Makassar itu banyak yg punya masalah dalam kehidupan nyatanya.
Sesudah itu, kelompok dibagi-bagi berdasar gender. Yang laki laki dengan laki. Mereka dilatih ala militer, perang2an, penguasaan senjata tajam, sampai pengenalan terhadap bom dengan bahan2 yang mudah didapat. Ini keahlian anggota JAD yang memang mereka dulu dilatih untuk itu," paparnya.
Sedangkan yang perempuan, dibagi lagi. Ada yang sebagai motivator, ada yang berperan utk survey lokasi, dan ada yang menjadi "pengantin" atau bombernya.
Anak anak merekapun disiapkan untuk menjadi bomber, mirip seperti satu keluarga yang melakukan bom bunuh diri di Surabaya dua tahun lalu.
Ketika polisi menggerebek villa Mutiara, dua orang lelaki tewas karena melawan. Hubungan mereka adalah mertua dan menantu.
"Yang berbahaya, karena jaringan villa Mutiara itu terbentuk sudah lama, sejak 2015, dikhawatirkan mereka sudah menyebar kemana mana. Sebagian dari mereka menjadi lone wolf, atau bomber yang tidak terkait dengan organisasi manapun. Tidak mudah melacak mereka, karena tempat mereka berpindah2.
Itulah kenapa akhirnya FPI dibubarkan. Ini dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran. Seperti film World Z War, dimana Brad Pitt akhirnya memotong tangan seorang prajurit wanita, supaya virusnya tidak bermutasi ke seluruh tubuh.
Tapi pembubaran FPI ini punya konsekuensi berat. Mereka melawan. 6 orang tewas dihajar polisi karena melawan. Sedangkan kelompok sisanya berencana melakukan bom serentak di seluruh Indonesia,"










