Terkini, Makassar – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat sistem pembayaran digital dengan meluncurkan inovasi QRIS Tap, yang membuat transaksi hanya dengan mengetukkan ponsel ke mesin pembayaran tanpa perlu memindai kode QR seperti yang banyak dilakukan selama ini.
Inovasi tersebut diharapkan semakin meningkatkan efisiensi dan kenyamanan dalam bertransaksi, terutama di momentum Ramadan dan Idulfitri yang biasanya disertai peningkatan permintaan ekonomi.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Selatan, Rizky Ernadi Wimanda, menyebutkan, jumlah
jumlah merchant QRIS meningkat 19,80% (yoy), dengan nilai transaksi QRIS melonjak tripel digit, 111,46% (yoy) pada Februari 2025.
"QRIS Tap sebelumnya diluncurkan pada 14 Maret 2025 sebagai bagian dari upaya BI dalam mendorong transformasi digital di sektor pembayaran. Ini kita terapkan di merchant merchant," jelas Rizky saat buka bersama media di House of Rewako, Makassar, Rabu 26 Maret 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Rizky juga menyebut bahwa kebijakan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SPPUR) sangat krusial dalam menjaga kelancaran, keamanan, dan efisiensi transaksi di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi saat Ramadan dan Idulfitri.
Dalam mendukung percepatan digitalisasi pembayaran, BI juga telah menggelar High Level Meeting (HLM) terkait Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) di tiga kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, yakni Takalar, Kepulauan Selayar, dan Gowa. Sinergi dengan pemerintah daerah ini bertujuan untuk memperluas penggunaan transaksi digital dalam berbagai sektor ekonomi.
Pertumbuhan Transaksi QRIS Melonjak
Inovasi QRIS, termasuk QRIS Tap, terbukti semakin diminati oleh masyarakat dan pelaku usaha. Data terbaru menunjukkan bahwa ekspansi QRIS di Sulawesi Selatan mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Terlihat dari Jumlah merchant QRIS meningkat 19,80% (yoy), dan Nilai transaksi QRIS melonjak 111,46% (yoy) pada Februari 2025.
Di sisi lain, transaksi kartu ATM/Debit tetap tumbuh stabil sebesar 1,64% (yoy) dengan nominal transaksi meningkat 13,09% (yoy).
Akan tetapi, transaksi kartu kredit mengalami kontraksi -10,61% (yoy) akibat penyesuaian konsumsi masyarakat pasca Tahun Baru.
Deflasi Februari dan Proyeksi Inflasi Maret
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Wahyu Purnama, mengungkapkan bahwa pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,87%, yang disebabkan oleh diskon tarif listrik hingga 50%.
Namun, harga listrik kini telah kembali normal, dan pada Maret ini kemungkinan akan terjadi inflasi karena kenaikan harga beberapa komoditas, seperti cabai, menjelang Lebaran.
Wahyu juga memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan pertama 2025 akan sedikit melambat, tetapi pada triwulan kedua diperkirakan akan kembali meningkat seiring dengan pulihnya konsumsi masyarakat pasca-Lebaran.










