Terkini.id, Jakarta – Sejumlah warga Dusun Ujung Batu, Batu Dua dan Bata Naga Desa Wai Kecamatan Salahutu Ambon, Maluku Tengah menolak dan meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak menggusur Masjid, sekolah dan Perumahan warga.
Di mana permintaan warga tersebut dikarenakan akan adanya Pembangunan Pelabuhan Ambon New Port sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN).
Wasalima, warga Dusun Ujung Batu menyebutkan meminta Presiden Jokowi untuk mencari lahan kosong bukan pemukiman penduduk menjadi target penggusuran pembangunan Ambon New Port. Ia bahkan meminta Presiden Jokowi mengutamakan rakyat.
"Pak Jokowi ini bukan lahan kosong, ada penduduk di sini, kasihani kami, kalau lahan kosong silakan, di sini pemukiman penduduk," tuturnya.
Ia lantas meminta Jokowi untuk turun ke lokasi dan memastikan pembangunan Ambon New Port seluas 700 hektare itu benar dibangun di lahan kosong atau pemukiman penduduk.
Warga, kata dia bersikeras untuk menolak penggusuran. Mereka berkomitmen akan memberikan perlawanan jika pemerintah kukuh memaksa warga meninggalkan pemukiman penduduk.
"Kami menolak untuk digusur, kami mau tinggal dimana, kami tidur tak nyenyak,"katanya.
Sementara, La Ode warga Dusun Ujung Batu meminta Jokowi untuk memberikan perlindungan kepada warga karena warga selalu mendapat intimidasi setelah menolak penggusuran.
"Jadi kami menolak program Ambon New Port, kami tak mau jadi korban penggusuran yang kedua kali," ujarnya. Dilansir dari CNN. Jumat 12 November 2021.
Ia bilang warga sempat menjadi korban penggusuran proyek pembangunan PLTD di Dusun Ujung Batu, Desa Wai, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Kala itu, ada sekitar 30 kepala keluarga (KK) sempat digusur namun hingga saat ini ganti rugi perumahan belum terealisasi.
"Jadi alasan kami menolak penggusuran karena kami tak mau kasus yang sama menerjang kami. Kami bagian dari NKRI pak presiden, perlakuan kami sama seperti rakyat lain di Indonesia. Silahkan membangun namun tidak boleh di pemukiman," tambahnya.
Disisi lain, Nurmole warga Dusun Batu Dua menuturkan warga sudah mendiami lahan itu sejak tahun 1921 silam. Kata dia warga tak bisa meninggalkan tempat yang diwariskan para leluhur mereka.
"Jadi enggak bisa dipindahkan kemana-mana, soalnya warga sudah nyaman, kalau direlokasi sulit, kalau memaksa pasti kita melawan," pungkasnya.
Ia mengaku sejak proyek strategis nasional itu mengemuka warga tak diberi tahu. Lebih lanjut ia berkata informasi tersebut diketahui setelah petugas menawarkan per unit rumah.
"Di sini, yang setuju untuk digusur itu kepala dusun," katanya.
Sebelumnya, Jokowi sendiri sudah mengutus Menhub Budi Karya Sumadi, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggeono dan Kepala BPKPM Bahlil Lahadalia ke Ambon Maluku. Kehadiran tiga pembantu Jokowi di Ambon untuk memantau langsung pelaksanaan pembangunan Ambon New Port sebagai Lumbung Ikan Nasional.
Mereka melihat lokasi pelabuhan dan perikanan seluas 300 hektar di kawasan pembangunan LIN. Mereka juga ke lokasi proyek Ambon New Port seluas 700 hektar di Desa Liang dan Wai menggunakan kapal Siwalima.










