Tentara Israel Tembak Mati Pria Palestina yang Pulang Kerja di Tepi Barat

Tentara Israel Tembak Mati Pria Palestina yang Pulang Kerja di Tepi Barat

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Tentara Israel tembak mati pria Palestina yang pulang kerja di Tepi Barat. Kabar duka kembali merundung Palestina. Pasalnya, dikabarkan pasukan Israel menembak seorang pria Palestina yang baru pulang dari bekerja di Tepi Barat hingga tewas pada Selasa 27 Juli 2021 waktu setempat.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan, warga bernama Shadi Omar Lotfi Salim itu ditembak mati di dekat Desa Beita.

Wakil Wali Kota Beita, Mussa Hamayel mengatakan kepada kantor berita AFP, pasukan Israel membunuh pria Palestina itu ketika baru saja memasuki desa tersebut sepulang bekerja.

“Dia dibunuh dengan darah dingin,” tegas Hamayel, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu 28 Juli 2021.

Hamayel sendiri mengaku heran atas insiden tersebut. Pasalnya, menurutnya saat itu tidak ada demonstrasi atau aksi protes apapun di Desa Beita.

Sementara itu, tentara Israel mengatakan saat insiden terjadi, mereka tengah berpatroli rutin di selatan Nablus. Mereka kemudian ‘mendapati seorang Palestina di daerah itu’.

Menurut tentara Israel, pria Palestina itu mendekat dengan cepat ke arah petugas dengan membawa objek mencurigakan yang teridentifikasi sebagai tongkat besi.

“Pasukan bergerak menghentikan orang itu sesuai prosedur, termasuk melepaskan tembakan peringatan ke udara,” demikian pernyataan resmi tentara Israel.

“Ketika tersangka terus mendekat, komandan pasukan melepaskan tembakan ke arah tersangka. Insiden ini akan diselidiki lebih lanjut,” imbuh penyaaan dari pihak tentara Israel.

Seperti diketahui, wilayah Beita sendiri sudah menjadi titik panas konflik klasik antara Israel dan Palestina, khususnya sejak Mei 2021 lalu.

Kala itu dilaporkan, berawal ketika puluhan keluarga Israel tiba dan mulai membangun permukiman di puncak bukit sekitar Nablus, yang dianggap melanggar hukum Israel dan internasional.

Setelah sejumlah bentrokan selama beberapa pekan, pemerintah Israel mencapai kesepakatan dengan para pemukim agar meninggalkan kawasan tersebut.

Para pemukim sepakat, namun membiarkan bangunan mereka tetap berdiri hingga Kementerian Pertahanan Israel menentukan lahan itu dapat dianggap sebagai wilayah negara atau tidak. Sementara itu, militer Israel akan tetap berada di lokasi sampai keputusan tercapai.

Kendati demikian, pemerintah Beita menolak kesepakatan tersebut. Hamayel mengatakan, ‘bentrokan dan protes akan terus berlanjut selama Israel masih ada di tanah kami’.