Sebelum Gugur di Medan Latihan Perang, Kru Nanggala Deni Richi Sempat Beli Batu Nisan

Sebelum Gugur di Medan Latihan Perang, Kru Nanggala Deni Richi Sempat Beli Batu Nisan

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Pernah Gagal Masuk TNI AL
Nasib Deni Richi sebelum menjadi prajurit tidaklah lancar dan seperti aliran air brantas di muka rumahnya.

Marsan memandangi foto anaknya semasa pendidikan Dikmata XXXV/2 2015 lantas menceritakan perjalanan nasib Deni.

Ada juga foto Deni yang diletakkan di atas meja pojok ruangan. Dia mengenakan jas warna biru lengkap dengan lencana dan tulisan TNI.

Penampilan anak pasangan Marsan dan Ninik ini semakin gagah dengan baret biru di kepalanya. Terakhir, di tembok rumah tersebut ada lukisan Kapal Selam KRI Nanggala 402.

"Itu foto anak saya setelah menjalani pendidikan TNI AL pada tahun 2015. Kalau foto kapal selam itu sekitar dua tahun lalu. Sejak Deni bertugas di Kapal Selam KRI Nanggala 402. Memang, sejak SMP Deni sudah bercita-cita menjadi TNI AL," kata Marsan yang mengenakan Masker berlogo TNI AL juga.

Lahir di Desa Jatiduwur pada 10 Desember 1993, Deni menamatkan SD di desa tersebut. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Kesamben di Jalan Raya Candisari 37, Jombatan. Deni tergolong murid berotak encer. Dia tidak pernah tinggal kelas. Bahkan nilai rapor-nya 8 dan 9.

Selepas dari SMP Negeri 2 Kesamben, kakak kandung dari Adelia Titania Arsani (21) ini melanjutkan sekolah ke SMA Tapen, Kecamatan Kudu, Jombang.

Untuk menuju ke sekolah tersebut, Deni tiap hari harus menyeberangi Sungai Brantas dengan jasa perahu tambang.

Kecerdasan Deni masih berlanjut hingga di SMA tersebut. Nilainya tidak ada yang merah. Maka tidak heran, Deni lulus dengan nilai yang sangat bagus. Meski demikian, saat mendaftar menjadi TNI AL, upaya Deni tidak berjalan mulus.

"Dia sempat gagal masuk TNI AL. Untuk sementara Deni kemudian bekerja sebagai petugas sekuriti (Satpam) di Surabaya. Tapi dia tidak patah arang. Kemudian mendaftarkan diri menjadi TNI AL pada gelombang kedua. Walhasil, dia diterima pada 2015," urai Marsan berkisah.

Kini Marsan berusaha ikhlas melepas kepergian sang anak untuk selamanya. Setiap malam di rumahnya yang asri itu para tetangga datang.

Mereka membaca tahlil secara berjamaah, lalu merapal doa. Semua itu ditujukan untuk arwah Kelasi Satu (Kls) Nav Deni Richi Sambudi. (suaracom).