Terkini.id, Makassar - Aksi razia buku terjadi di Makassar dan membuat heboh. Di sisi lain, sejumlah warga dan kalangan penulis memprotes aksi tersebut.
Seperti diketahui, sekelompok orang yang mengatasnamakan Brigade Muslim Indonesia melakukan razia ke salah satu toko buku terbesar yakni Gramedia, pada Sabtu 3 Agustus 2019.
Mereka merazia sejumlah buku terkait komunisme, Marxisme hingga Leninisme lalu meminta Gramedia menarik buku tersebut untuk dikembalikan ke percetakannya.
"Jadi kami menganggap buku buku seperti ini adalah bagian dari penyebaran paham itu (radikal) dan Alhamdulillah kami bekerjasama dengan pihak Gramedia untuk menarik buku ini dan mengembalikan ke percetakannya. Kita sepakat bahwa Makassar harus bebas dari paham Marxisme dan Leninisme," sambung pria yang menjadi juru bicara kelompok tersebut.
Dapat Protes Berbagai Pihak
Sejumlah kalangan di Makassar mengkritik aksi razia yang dilakukan oleh ormas tesebut.
"Kalau iman lemah, jangan masuk toko buku. Jadi kuman pemerkusi budaya literasi. Racun penangkal kuman ya kutu buku," sindir akademisi UIN Alauddin, Wahyuddin Halim.
"Di Makassar, sejumlah orang mendatangi sebuah toko buku. Bukan untuk membeli buku atau sekadar membaca buku terbaru, namun justu meminta agar buku-buku itu tidak lagi dijual atau didisplay. Jika tidak disikapi, jangan-jangan bukan hanya toko buku, tapi juga perpustakaan, cafe baca, festival literasi bahkan diskusi sekalipun akan mereka datangi jika dianggap memiliki atau mendiskusikan buku yang mereka tidak sukai," tulis Syamsul Arif Ghalib.
Seniman Sulsel, Andhika Mappasomba menulis:
Tentang Razia Buku di MakassarDari peristiwa ini, saya membaca bahwa seharusnya ini tidak terjadi. Seluruh paham di dunia ini layak dibaca untuk dikenali dan diketahui, tanpa harus mengikuti paham apa pun di luar dari keyakinan beragama.Penyitaan buku apa pun, yang berkenaan dengan pengetahuan adalah pengekangan terhadap kebebasan berpikir. Pengkhianatan terhadap pendidikan secara menyeluruh dan upaya biadab pengekalan kebodohan.Kita boleh membaca kitab apa pun tanpa harus menjadi pengikutnya. Kita boleh menyanyi lagu patah hati, tanpa ikut bunuh diriKita membaca kisah Namruz, lataa-uzaa, tanpa harus menjadi pengikutnya, apalah lagi hanya kajian tentang komunisme.Ini seperti menyalahkan nada indah dengan mengutuk-ngutuk alat musik. Mengutuk pencinta lagu jazz karena kita beraliran dangdut.Ini seperti membreidel sebuah film karena di dalamnya ada hal seperti penyakit, perang, adegan mandi dan hal buruk sebagainya. Ini seperti membaca kisah Laila Majnun dan tiba tiba ada kekhawatiran segelintir massa anti Sastra bahwa semua pembaca akan berubah menjadi Qais Majnun.Gak lama lagi, kitab suci akan dirazia karena berbeda dengan kitab suci kelompok tertentu.Sila Ngopi!Silakan Razia Buku Digital juga di Google!