Terkini, Makassar – PSM Makassar, sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, kini menghadapi kenyataan pahit sebagai tim musafir di kompetisi Liga 1. Dalam dua musim terakhir, Juku Eja tak bisa bermain di kota asalnya, Makassar, atau bahkan di wilayah sekitarnya.
Stadion Andi Mattalatta Mattoangin, yang menjadi kandang bersejarah mereka terbengkalai tanpa kepastian kapan akan bisa digunakan lagi.
Situasi ini membuat PSM terpaksa berkandang di Stadion Batakan, Balikpapan, sejak musim lalu. Pelatih PSM, Bernardo Tavares, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya.
“Selama dua musim ini kami selalu bermain di luar Makassar, dan kami harus tetap rendah hati serta selalu menanamkan semangat juara,” ujar Tavares dalam konferensi pers jelang laga melawan Persib Bandung.
Kehilangan kandang bukan sekadar soal lokasi, tetapi juga mentalitas dan kebanggaan. Musim 2022-2023 menjadi bukti bagaimana dukungan suporter dapat menjadi faktor pembeda.
Saat masih bisa bermain di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, PSM tampil perkasa dengan meraih 15 kemenangan, sekali imbang, dan hanya sekali kalah dalam 17 laga kandang. Kini, dengan status sebagai tim musafir, tantangan yang dihadapi jauh lebih besar.
Tak hanya kehilangan stadion, PSM juga harus menghadapi kenyataan pahit lainnya: eksodus pemain kunci. Beberapa pilar utama tim musim lalu tak lagi berseragam merah, meninggalkan celah yang sulit ditambal.
“Kami harus realistis. Saat ini, kami kehilangan banyak pemain penting dan harus bermain di luar daerah sendiri,” tambah Tavares.
Meski diterpa banyak kendala, Tavares tetap berharap suporter setia PSM terus memberikan dukungan. Ia paham bahwa dengan mayoritas skuad yang kini diisi pemain muda, tekanan akan semakin besar.
Namun, tanpa dukungan moral dari publik Makassar, perjuangan tim akan semakin berat.
“Saya ingin suporter tetap memberikan dukungan, bahkan ketika pemain kami melakukan kesalahan. Mereka butuh kepercayaan agar bisa terus berkembang,” tegasnya.
Harapan baru sempat muncul dengan rencana rampungnya Stadion Gelora BJ Habibie pada 16 Februari mendatang. Jika tak ada kendala, PSM berpeluang kembali bermain lebih dekat dengan rumah mereka sendiri saat menghadapi Persija.
Namun, dengan ketidakpastian yang masih menyelimuti proyek renovasi Stadion Andi Mattalatta Mattoangin, Juku Eja harus tetap bersiap menjalani musim sebagai tim tanpa rumah sejati. Sampai kapan PSM harus terus berjuang di tanah rantau?










