Terkini.id, Jakarta - Pengamat politik Jamiluddin Ritonga mengatakan hingga saat ini belum ada Calon Presiden (Capres) yang unggul di kalangan orang berpendidikan tinggi, seperti misalnya pemilih Jokowi yang dominan selalu berasal dari kalangan tidak terdidik.
Jamiluddin Ritonga mengatakan hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan masyarakat Indonesia mayoritasnya berasal dari kalangan menengah ke bawah.
"Jokowi yang dominan dipilih pemilih tidak terdidik justru dua kali mengalahkan Prabowo. Hal itu logis karena mayoritas pemilih di Indonesia memang berpendidikan menengah ke bawah," ujar Jamiluddin Ritonga, Kamis 8 Desember 2022.
Lebih lanjut, Jamiluddin Ritonga berpendapat biasanya jika pemilih berasal dari kaum berpendidikan tinggi, mereka akan selalu kalah.
Hal ini terjadi pada Prabowo Subianto di Pemilu 2014 dan Pemilu 2019.
"Prabowo misalnya, selalu dominan dipilih dari kalangan terdidik pada Pilpres 2014 dan 2019. Nyatanya Prabowo kalah dari Jokowi," katanya.
Lain halnya dengan Anies Baswedan, berdasarkan lembaga survey Voxpol Center Research and Consulting, mantan Menteri Pendidikan ini pemilihnya rata-rata datang dari kaum berpendidikan.
Padahal selama ini sangat jarang ditemui kejadian seorang kandidat Capres yang pemilihnya kebanyakan dari orang yang memiliki pendidikan tinggi.
"Bagi sebagian orang, unggul di kalangan pendidikan tinggi tentu membanggakan. Sebab, orang berpendidikan tinggi pada umumnya pemilih rasional. Mereka ini memilih Anies atas dasar pertimbangan komprehensif. Setidaknya mereka melihat kelayakan Anies menjadi Capres sebagai pertimbangan utama," tuturnya.
Namun demikian, Anies Baswedan dinilai masih berpeluang untuk menelan kekalahan di Pemilu 2024.










