Opini: Museum Sasmitaloka Saksi Bisu Kekejaman G 30 S/PKI

Opini: Museum Sasmitaloka Saksi Bisu Kekejaman G 30 S/PKI

Subhan Riyadi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Museum Sasmitaloka atau Museum Jendral Besar Dr. A.H. Nasution dahulunya merupakan rumah pribadi Nasution dan keluarga sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September2000.

Selanjutnya keluargaNasutionpindah rumah pada tanggal 29 Juli, 2008 sejak dimulainya renovasi rumah pribadi tersebut menjadi museum.

Secara pribadi penulis bangga bisa menapakkan kaki di museum bersejerah milik Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Pengorbanannya patut diapresiasi seluruh bangsa dan negara, Nasution kehilangan anak dan istrinya tewas ditangan G 30 S/PKI yang dilakukan pasukan Cakrabirawa.

Sesampainya di Museum Sasmitaloka Abdul Haris Nasution. Ruang utama menyambut para tamu, terlebih dahulu registrasi buku tamu sebagai tanda bahwa pernah berkunjung ke Museum. Sesuai namanya, ruang ini merupakan tempat Jend. A.H. Nasution dengan sofa warna abu-abu menjadi favorit beliau menjamu tamu.

Di ruang tersebut terpampang beberapa foto yang sulit untuk dilukiskan satu persatu. Puas melihat ruang tamu penulis melanjutkan ke ruang kerja Jend. A.H. Nasution, di tempat itulah sang Jenderal menuangkan ide dan buah pikirannya, banyak hasil karyanya ditulis untuk dipersembahkan kepada bangsa dan negara.

Lebih ke dalam terdapat ruang senjata yang berhadapan dengan ruang tidur, dimana ruangan ini merupakan saksi bisu kekejaman G 30 S/PKI (pasukan Cakrabirawa) yang berupaya menculik dan membunuh Jend. A.H. Nasution pada tanggal 1 Oktober 1965.

Tanggal 1 Oktober 1965 tempat ini terjadi peristiwa dramatis yang hampir menewaskan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Pada peristiwa tersebut PKI dengan G 30 S-nya berupaya menculik dan membunuh Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dimana pada saat itu menjabat Menko Hankam/Kasab.

Namun ia berhasil menyelamatkan diri dan luput dari dari pembunuhan, tetapi putri kedua beliau yang bernama Ade Irma Suryani Nasution dan Ajudannya Lettu Czi Pierre Tendean gugur dalam sejarah kelam tersebut.

Sejak luput dari peristiwa berdarah itu Jenderal Besar DR. A.H. Nasution semakin mengembangkan berbagai gagasan dan pandangan inovatifnya, dituangkan dalam bentuk tulisan, baik berkaitan dengan tema kemiliteran, kenegaraan maupun ilmu pengetahuan umum lainnya. Seperti buku berjudul Memenuhi Panggilan Tugas (9 jilid), Sekitar Perang Kemerdekaan dan Misi Sejarah, Serta buku Perang Gerilya yang diakui secara internasional.

Sebagai wujud penghormatan terhadap karya Jenderal Besar DR. A.H. Nasution dan dalam rangka mengumpulkan, memelihara serta merawat koleksi benda sejarah tersebut maka Kasad mengeluarkan Surat Perintah Nomor Sprin 1459/VIII/2007 tanggal 14 Agustus 2007 tentang pembentukan Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution.

Sebagai realisasi dasar surat perintah tersebut maka dimulailah renovasi dan penataan kediaman Jenderal Besar DR. A.H. Nasution sejak bula Juli 2007 sampai dengan November 2008. Pada tanggal 3 Desember 2008 bertetapan dengan hari kelahirannya, 3 Desember 1918.

Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution ini diresmikan oleh Presiden RI, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Resminya Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, diharapkan dapat dijadikan wahana pengenalan tokoh Pahlawan Nasional Jenderal Besar DR. A.H. Nasution menjadi wisata edukasi, media belajar sejarah, media transformasi nilai-nilai luhur, serta media mengenal potret masa lalu