“Prediksi BMKG menunjukkan intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50 hingga 80 persen, dan terdapat kemungkinan kecil kurang dari 20 persen berkembang menjadi kategori kuat,” jelas Ardhasena dalam keterangan resminya.
Akurasi Prediksi Masih Dipengaruhi Spring Predictability Barrier
BMKG juga mengingatkan bahwa prediksi El Niño pada periode Maret hingga April masih memiliki tingkat ketidakpastian karena adanya fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan akurasi prediksi iklim global pada periode musim semi di belahan bumi utara.
Dalam periode tersebut, prediksi iklim umumnya hanya cukup andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan. Oleh karena itu, BMKG akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan data secara berkala.
BMKG menyebut tingkat kepercayaan terhadap prediksi intensitas El Niño akan meningkat pada hasil pemodelan bulan Mei 2026 karena secara statistik memiliki tingkat keandalan yang lebih baik untuk memprediksi kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.
Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dari Normal
Meskipun intensitas El Niño masih dalam tahap perkembangan, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada berbagai sektor seperti pertanian, sumber daya air, kehutanan, energi, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya,”imbuh Ardhasena.
BMKG Imbau Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Antisipasi










