Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/terkini/public_html/webapp/trial/phpdemo/class/td_module.php on line 905
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/terkini/public_html/webapp/trial/phpdemo/class/td_module.php on line 912
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/terkini/public_html/webapp/trial/phpdemo/class/td_module.php on line 934
Terkini.id, Makassar - Begitu memasuki Pammana dari arah Pompanua, bukan saja madrasah As’adiyah yang terbentang di sisi kanan jalan. Juga, madrasah Muhammadiyah yang menjadi bagian dalam penyediaan layanan pendidikan.
Begitu pula dengan madrasah ataupun sekolah yang terbentang sepanjang sisi timur jazirah Sulawesi Selatan. Berangkat dari Sinjai, dimana menjadi rumah bagi Universitas Muhammadiyah Sinjai, dan Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai.
Melewati sempadan Sinjai-Bone, di Salomekko sudah terpampang papan nama sekolah menengah Muhammadiyah, baik SMP maupun SMA.
Begitu pula di kota Watampone, sudah bertransformasi STKIP Muhammadiyah Bone menjadi Universitas Muhammadiyah Bone.
Sebelum beranjak dari Sengkang, saya masih berkesempatan untuk berbincang dengan kawan. Amal usaha pendidikan Muhammadiyah di Wajo telah berkembang di Sabbangparu. Sementara itu, disiapkan Muhammadiyah Boarding School untuk mewadahi sekolah menengah yang ada di kota Sengkang.
Termasuk pembentukan pesantren Darul Arqam. Nama yang sama telah digunakan pula untuk sebuah pesantren di Makassar. Bahkan, kini alumninya sudah tersebar luas sampai ke Amerika Serikat. Diantaranya, Imam Shamsi Ali, di kota New York.
Bukan saja pesantren Muhammadiyah. Bahkan Pengurus Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan juga telah mengelola pesantren putri yang dinamakan Pesantren Ummul Mukminin. Diantara fasilitas pesantren, masjid yang dinamakan Athirah, tokoh pergerakan Aisyiyah Sulawesi Selatan. Turut juga menyumbangkan wakaf atas pengembangan pesantren.
Dari Sabbangparu di perbatasan Soppeng kemudian kita dapati sekolah Muhammadiyah yang juga berdampingan dengan sekretariat pimpinan cabang. Bahkan sampai di Barru yang menjadi rumah STKIP Muhammadiyah Barru yang terleyak di Pekkae.
Perjalanan lima hari dengan rute Makassar – Bulukumba – Sinjai – Sengkang – Makassar, dalam rangkaian silaturahmi. Termasuk menghadiri pernikahan kawan mengantarkan pada pengamatan bagaimana intitusi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan telah menjadi bagian denyut kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar.
Perjalanan dua belas kota dan kabupaten, merupakan setengah kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan, menghamparkan sebaran kelembagaan. Termasuk dalam tiga tahun terakhir, dimana perguruan tinggi yang awalnya merupakan sekolah tinggi kemudian bertransformasi menjadi universitas.
Bagian akhir perjalanan, saya menemui ketua program studi Pendidikan agama Islam untuk jenjang doktor, Dr. Rahim Razaq. Ini mengkonfirmasi betapa melalui jalinan kelembagaan organisasi di tingkat wilayah dengan kelengkapan diantaranya LAZISMU telah mengimpelemntasikan program transformasi. Termasuk mempertahankan apa yang sudah dikelola selama ini.
Dalam masa-masa istirahat usai perjalanan tersebut, juga menyaksikan di media sosial kedatangan Ketua Umum, Piimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Natsir.
Kehadiran beliau di Makassar, meresmikan Gedung PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar. Sekaligus meletakkan batu pertama untuk bengunan lain yang akan menjadi Gedung fakultas kedokteran Unismuh Makassar.
Praktik keagamaan Muhammadiyah Sulawesi Selatan, tidak berkutat pada dialektika intelektual berupa diskursus keagamaan dalam skala luas. Justru keberadaan dalam perluasan kesempatan pendidikan.
Sementara kantor organisasi dijadikan sebagai pusat dakwah. Sehingga, keberadaan Muhammadiyah tak dipandang sebagai sebuah aktivitas intsitusionalisasi Muhammadiyah. Melainkan merupakan bagian dari keislaman.
Perlu ditelusuri, ini merupakan perkembangan yang mengemuka pasca Muktamar Makassar. Ataukah justru Muktamar menjadi prakondisi dimana justru gairah pengembangan organisasilah yang menjadi penyemangat sehingga bisa menjadi tuan rumah Muktamar pertama, setelah satu abad Muhammadiyah.
Kini, pendulum perkembangan dan pengembangan Muhammadiyah tak lagi hanya di Yogyakarta. Bahkan Sulawesi Selatan menjadi bagian utama perguruan tinggi Muhammadiyah yang bersanding dengan Jawa Timur.
Rapat kerja wilayah yang dilaksanakan terakhir di Bantimurung, Maros, juga menegaskan bahwa episentrum Muhammadiyah Sulawesi Selatan tidak lagi hanya di Makassar semata. Maros, Wajo, dan seentaro wilayah lainnya juga menjadi rumah bagi Muhammadiyah.
Ini dapat disaksikan dengan menyebarkan aktivitas dakwah dan penyediaan sarana pendidikan. Tidak saja di kota, tetapi juga sampai ke pelosok.
Ismail Suardi Wekke
Pusat Studi Kepemimpinan Transformatif
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Papua Barat










