Terkini, Jeneponto – Lebih dari dua pekan berlalu sejak 28 siswa di Kecamatan Rumbia harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas dan rumah sakit usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Penyebab pasti hingga kini masih menjadi tanda tanya besar bagi publik. Padahal, data yang seharusnya menjawab segala pertanyaan itu, hasil uji laboratorium sudah berada di tangan pihak berwenang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Terkini.id, sampel makanan yang diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan itu telah diuji di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Makassar. Sesuai informasi yang dihimpun Terkini.id, lembaga penguji tersebut sudah menyerahkan seluruh dokumen hasilnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto beberapa waktu lalu. Namun, hingga hari ini, publik masih belum mendapatkan kejelasan resmi apa pun.
Ketika dikonfirmasi terkait perkembangan terakhir hasil pengujian, pihak Labkesmas Makassar menegaskan bahwa tugas mereka hanya sebatas menerima sampel, melakukan pengujian, dan menyerahkan laporan kepada instansi yang meminta pemeriksaan. Secara tegas mereka menyatakan tidak memiliki wewenang untuk mempublikasikan temuan tersebut ke masyarakat luas.
“Mohon maaf, kalau untuk hal ini bapak silakan hubungi Dinkes setempat. Kami tetap harus menjaga kerahasiaan customer kami. Tugas kami menerima dan mengerjakan sampel kemudian menyampaikan ke pihak yang memeriksakan sampelnya,” tulis perwakilan Labkesmas dalam pesan WhatsApp yang diterima Terkini.id, Selasa 5 Mei 2026.
Pernyataan ini mempertegas bahwa kunci untuk membuka tabir misteri ini kini sepenuhnya ada di tangan Pemerintah Kabupaten Jeneponto melalui jajaran Dinas Kesehatan. Namun, upaya konfirmasi yang dilakukan media ini kepada Kepala Dinas Kesehatan maupun pejabat terkait lainnya belum mendapatkan tanggapan sama sekali. Telepon dan pesan yang dikirimkan belum juga dijawab hingga berita ini diturunkan.
Ketiadaan informasi resmi ini justru memicu bermacam spekulasi yang berkembang di masyarakat. Mulai dari dugaan adanya kontaminasi bakteri, penggunaan bahan yang tidak layak konsumsi, hingga kesalahan dalam proses pengolahan atau penyimpanan makanan, semuanya menjadi perbincangan tanpa ada jawaban yang menuntaskan.
Padahal, hasil uji laboratorium bukan sekadar lembaran data teknis. Dokumen itu memiliki peran krusial, tidak hanya untuk mengetahui penyebab medis, tetapi juga sebagai dasar untuk menentukan langkah penanganan, perbaikan sistem, hingga pertanggungjawaban hukum jika ditemukan kelalaian.
Ketua Fraksi Revolusi Keadilan (FRK), Muh Alim Bahri secara tegas mendesak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto untuk segera mengumumkan hasil uji laboratorium terhadap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga kuat menjadi penyebab gangguan kesehatan serius yang menimpa puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Kecamatan Rumbia.
"Kejadian ini telah menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua siswa serta masyarakat luas, mengingat program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekolah, justru berpotensi membahayakan kesehatan mereka," kata Alim Bahri, kepada Terkini.id, Rabu, 6 Mei 2026.
Berdasarkan informasi terkait kejadian, 23 April 2026, 28 siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Kecamatan Rumbia mengalami gejala gangguan kesehatan serius sesaat setelah mengonsumsi menu MBG yang disalurkan oleh SPPG yang terletak Desa Bontomanai, Kecamatan Rumbia.
Alim Bahri menegaskan, keterlambatan pengumuman hasil uji laboratorium justru menimbulkan keraguan dan pertanyaan publik mengenai keamanan serta pengawasan terhadap penyaluran makanan dalam program tersebut. Masyarakat berhak mengetahui kebenaran hasil pemeriksaan tersebut secara transparan, agar dapat diketahui penyebab pasti kejadian ini serta langkah apa yang harus diambil untuk mencegah kejadian serius terulang kembali.
“Kami meminta Kepala Dinas Kesehatan tidak lagi menunda-nunda. Hasil uji laboratorium itu untuk diumumkan secara luas ke publik karena hal tersebut adalah hak publik, terutama bagi orang tua yang anaknya menjadi korban. Kejelasan data sangat diperlukan agar tidak menimbulkan spekulasi yang meresahkan, sekaligus menjadi dasar untuk menindak tegas pihak yang bertanggung jawab jika terbukti ada kelalaian dalam proses pengolahan maupun penyaluran makanan,” ujar Alim Bahri.
Di tengah ketidakjelasan ini, kekhawatiran orang tua siswa masih membayangi. Beberapa wali murid yang dihubungi mengaku merasa cemas dan bingung. Mereka belum mendapatkan penjelasan pasti apakah makanan yang dikonsumsi anak mereka benar-benar aman atau justru mengandung zat berbahaya yang bisa berdampak jangka panjang.
“Kami hanya tahu anak kami sakit setelah makan itu, tapi sampai sekarang tidak ada yang menjelaskan apa penyebabnya. Kalau ada yang salah, seharusnya diperbaiki, dan kami juga berhak tahu supaya tidak terjadi lagi,” ungkap salah satu orang tua yang enggan disebutkan namanya.
Kini, seluruh mata tertuju pada Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto. Dengan hasil uji yang sudah ada di meja kerja, tinggal menunggu kapan pihak berwenang berani membuka data tersebut dan menjawab semua pertanyaan yang menggantung.
Apakah ada temuan signifikan yang membutuhkan pertimbangan khusus? Atau hanya sekadar proses administrasi yang belum rampung? Hanya dengan publikasi resmi, teka-teki ini akan terpecahkan. Dan sampai saat itu, publik hanya bisa menunggu dengan harapan bahwa jawaban yang diberikan nanti akan membawa kepastian, sekaligus menjadi langkah awal perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.
Terkini.id akan terus memantau dan menunggu tanggapan resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto untuk melengkapi rilis berita ini.










