LANGGAM bahasa jurnalistik itu punya karakteristik tersendiri dengan langgam bahasa yang lain.
Meskipun sama-sama mengikuti kaidah bahasa seperti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), langgam bahasa jurnalistik memiliki kekhasan dibandingkan dengan langgam bahasa percakapan, bahasa dalam ilmiah atau naskah pidato.
Prof. S. Wojowasito dari IKIP Malang dalam buku berjudul “Bahasa Jurnalistik” mengungkapkan, Bahasa jurnalistik ialah bahasa komunikasi massa sebagai tampak harian-harian dan majalah. Bahasanya harus mudah dipahami oleh orang-orang dengan intelektual yang minimal, namun juga harus sesuai dengan norma dan tata bahasa antara lain susunan kalimat yang benar dan pilihan kata yang cocok.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Dr. Yus Badudu dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada tahun 1978 bahwasannya bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik.
Kekhasan bahasa jurnalistik itu ditandai oleh dua ciri utama, yakni kehematan dan kejelasan.
Kalimat kalimat dalam bahasa jurnalistik cenderung lebih pendek, dan memiliki kata-kata yang lebih sedikit.
Itu kekhasan yang ditandai oleh aspek kehematan atau keringkasan pada tataran kalimat atau sintaksis.
Pada tataran kata, bahasa jurnalistik memiliki kata kata yang hurufnya lebih sedikit dibandingkan dengan kata yang lebih panjang untuk makna yang sepantar.
Tentu pertimbangan irama, bunyi, penghindaran repetisi memungkinkan untuk menafikkan penerapan prinsip kehematan bahasa jurnalistik di tataran kata itu.
Ciri khas kedua yang menandai bahasa jurnalistik adalah kejelasan. Bahasa jurnalistik harus jelas dalam pemaknaan. Tak bisa mengandung makna ambigu. Kejelasan juga berkaitan dengan logika.
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis berita :
1. Perbanyak menggunakan titik
Lebih banyak titik, akan membuat jurnalis menghindari kalimat majemuk (khususnya majemuk campuran) yang jumlah kalimatnya terlalu banyak. Kalimat majemuk dengan pola yang rumit kerap membuat pengutaraan pikiran menjadi sulit dipahami.
Contoh kalimat majemuk:
"Mansyur (46), seorang warga Desa Gattareng, tewas bersimbah darah setelah ditikam oleh Anas, warga Desa Batuara, dengan tiga tusukan, gara-gara mansyur membawa kawin lari adik kandung Anas."
Jika memperbanyak titik, kalimatnya akan lebih mudah dipahami:
"Mansyur, 46, seorang warga Desa Gattareng, tewas bersimbah darah. Mansyur ditikam oleh Anas, warga Desa Batuara. Dada kiri Mansyur ditikam Anas dengan tiga kali tusukan. Penikaman itu dipicu oleh perbuatan Mansyur yang membawa kawin lari adik kandung Anas.”2. Banyak memakai titik juga membiasakan jurnalis menggunakan kalimat pendek.3. Gunakan bahasa yang biasa dan mudah dipahami.
Khalayak media massa: pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda. Minat perhatian, daya tangkap, dan kebiasaan mereka berbeda-beda. Maka tulisan harus sesederhana dan sejernih mungkin agar semuanya bisa memahami. Jika tulisan anda hanya dipahami oleh minimal manusia yang berpendidikan tinggi, bagaimana dengan mereka yg berpendidikan sekolah dasar, murid smp/sd, pebecak dst? Tapi jika tulisan itu minimal dipahami oleh siswa SMP, semuanya sudah pasti paham.
4. Gunakan bahasa dan kalimat aktif, bukan pasif.
Contoh kalimat pasif: "Si Amat dipukul hingga babak belur oleh si Polan”. Tentu lebih baik jika “Si Polan memukul si Amat babak hingga belur”.5. Menggunakan bahasa padat dan kuat.
Singkat, dan tuturkan dengan tidak bertele-tele. Penulis atau wartawan muda seringkali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam berbagai kata. Kata-kata yang dipakai seharusnya efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa harus dihindarkan.
Ada teman-teman aktivis mahasiswa yang menulis begini dalam pernyataan sikapnya, ketika berdemonstrasi:
Semangat egalitarianisme dan gerakan yang militansi itu akhirnya terpuput, lekang seiring waktu yang terus berjalan. Idealisme dan pergerakan mahasiswa di era kontemporer ini akhirnya semakin terkontaminasi oleh. Pusaran pragmatisme, materialisme, dan hedonisme. Olehnya itu, urgen untuk kembali melakukan sinkronisasi perjuangan mahasiswa kontemporer dengan era mahasiswa di waktu silam.6. Tunjukkan, Jangan BeropiniPrabowo Subianto Marah
Judul berita di atas bisa saja diprotes. Lebih baik menggambarkan seperti apa ekspresinya: wajahnya memerah, lalu menggebrak podium.
Beberapa Kesalahan dalam Penulisan
Beberapa kesalahan penulisan dan melanggar EYD tapi kerap dianggap biasa:
---------
Perbedaan meniduri dan menidurkan
---------
---------
-----------
Membedakan "di" dan "ke" sebagai kata depan (preposisi) atau imbuhan
Wiranto di Serang Orang Tak Dikenal atau Wiranto Diserang Orang Tak Dikenal?Mau kemana atau mau ke mana?
---------
"Nanti saya kirim email." Email dalam bahasa Indonesia berarti lapisan gigi. Mengirim email, sebenarnya berarti mengirim lapisan gigi. Lebih tepat jika menggunakan "surat elektronik."
---------
Kesalahan tata bahasa. Contohnya pada kalimat:
"Perkosa Gadis, Polisi Tangkap Sule," atau
"Dengan melaju kencang 70 mil perjam, mobil mogok ditabrak kereta api di jalur KA,"
atau lebih parah:
"Dengan Mengenakan kebaya, Presiden Jokowi Menemani Ibu Iriana ke Kondangan."
Ini masuk dalam permasalahan Dangling Principle, atau persoalan tata bahasa yang sangat banyak dan sering dibuat wartawan, termasuk akademisi, bahkan sastrawan. Jika kalimatnya seperti di atas, pertanyaannya, siapa yang memperkosa? Kendaraan mana yang menabrak dan ditabrak? dan siapa yang mengenakan kebaya? seharusnya, "Dengan Mengenakan Kebaya, Ibu Ani Yudhoyono Menemani SBY ke Kondangan." Atau "Perkosa Gadis, Sule Ditangkap Polisi."
---------
- Penggunaan imbuhan ter- dan di-
Mahasiswi UIN Tewas Dilindas Truk MAKASSAR--Seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Makassar, Anggi Anggraini, 19, tewas setelah dilindas mobil truk sampah di jalan Poros Antang, 6 November. Menurut hasil penyelidikan polisi, Angg yang mengendarai motor jenis Yamaha Mio Sporty, awalnya ingin menyalip mobil truk yang melaju kencang. "Tapi tiba-tiba motornya oleng, dan korban kehilangan keseimbangan. Sementara mobil truk melaju kencang, dan pengemudinya tidak bisa lagi mengendalikan. Akhirnya dia dilindas," ujarnya.
Pertanyaannya, sudah betulkah judul "mahasiswi dilindas?" Mana yang lebih tepat, dilindas atau terlindas?
Jurnalis kerap salah dalam memilih diksi antara kata berimbuhan di- atau ter-. Salah satu perbedaan fungsi dua imbuhan ini adalah, ter- digunakan untuk perbuatan yang tidak disengaja. Sedangkan di- digunakan untuk perbuatan disengaja. Ini berlaku untuk sejumlah kata kerja: terbakar-dibakar, tertembak-ditembak, terbunuh-dibunuh, tertabrak-ditabrak, dst.
---------
Kata "Mengamankan". Wartawan terkadang langsung menulis hasil wawancara dengan polisi, tanpa meminta penegasan tentang maksud mengamankan itu. Polisi biasanya menggunakan kata mengamankan untuk menyita barang bukti, menangkap pelaku, menahan pelaku, atau memang mengamankan pelaku dari ancaman massa.
---------
"Saya bonceng dengan motorku ya..." Kata bonceng, dalam KBBI, berarti ikut naik (pada kendaraan roda dua). Orang yang membonceng, adalah orang yang menumpang di motor orang lain. Bukan orang mengemudikan motor.
---------
"Jam berapa sekarang?", seharusnya "Pukul berapa sekarang?" Pukul berbicara tentang saat, waktu; sekarang sudah pukul 12.00 WITA. Sedangkan jam berbicara ukuran waktu yang lamanya 1/24 hari (sehari semalam): "berapa jam waktu anda tidur?"
---------
Salah menempatkan koma. Contoh:
"Dua anak, lebih baik." Atau, "dua anak lebih, baik."
---------
Menggunakan kalimat ambigu pada judul. Contoh:
"Selamat Datang Bulan Juli”
Kalimat ini bisa berarti "selamat datang, bulan Juli", atau "Selamat datang bulan, Juli (nama orang)."
---------
Kesalahan Logika:
"Mayat ditemukan tewas di kamar mandi."
---------
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.460187170987617&type=3