Terkini.id, Makassar - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat kejadian bencana banjir di Sulawesi Selatan (Sulsel) meningkat dalam periode 10 tahun terakhir.
Data tersebut menunjukkan bahwa sejak tahun 2012 hingga 2017 frekuensi kejadian bencana di Sulsel hanya di bawah 100 kali dan tren 2018 hingga 2022 intensitasnya meningkat hampir 2 kali lipat.
Hal ini juga menjadi salah satu faktor jika krisis iklim semakin nyata terjadi.
"Kalau kita lihat saat ini Makassar didominasi oleh pemukinan termasuk kawasan industri," kata Kepala Divisi Urban dan Infrastruktur WALHI Sulawesi Selatan, Muhammad Riszky, Selasa, 14 Februari 2023.
Berdasarkan peta tutupan lahan yang diolah oleh WALHI Sulsel sekitar 11.423,55 atau 65,04 persen adalah lahan terbangun. Belum lagi luasan daerah resapan atau ruang terbuka hijau yang hanya sekitar 10,99 persen.
Artinya kondisi Makassar sangat rentan terkena banjir terlebih di musim penghujan sekarang ini. Belum lagi kerentanan hutan dan area DAS yang menjadi penopang Kota Makassar yang saat ini semakin berkurang tutupan lahannya.
"Tingginya kejadian bencana berbanding lurus dengan tingginya laju deforestasi dan degradasi kawasan hutan yang terjadi di Sulawesi Selatan," sebutnya.
Melihat kerentanan yang terjadi pemerintah, dia mengatakan seharusnya pemerintah melihat ke arah pembangunan yang berorientasi keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, krisis iklim yang semakin parah saat ini harusnya mendorong berbagai kebijakan yang mampu mengurangi dampaknya, bukan malah memperparah laju krisis iklim.
"Juga penting membuat skema penanganan krisis bencana yang terintegrasi bukan hanya dari unsur pemerintah namun juga unsur organisasi masyarakat sipil," tuturnya.










