Penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 7,82% yoy menjadi Rp138,35 triliun, terdiri dari kredit produktif Rp74,89 triliun dan kredit konsumsi Rp63,46 triliun.
Berdasarkan sektor lapangan usaha, pertumbuhan kredit dengan share tertinggi yakni sektor perdagangan 26,07% (5,26% yoy), sektor petanian, perburuan dan kehutanan 7,75% (25,46% yoy), dan industri pengolahan 4,42% (20,78% yoy).
Adapun pada sektor bukan lapangan usaha, kredit untuk pemilikan peralatan rumah tangga lainnya dan untuk pemilikan rumah tinggal tumbuh masing-masing 4,55% yoy dan 6,44% yoy dengan share masing-masing 18,68% dan 14,24%.
Adapun penghimpunan DPK tumbuh 2,79% dengan nominal Rp115,19 triliun, terdiri dari giro Rp17,06 triliun, tabungan Rp70,10 triliun, dan deposito Rp28,03 triliun.
NPL perbankan masih di level yang aman
NPL perbankan Sulsel terjaga di level aman 2,73%. Berdasarkan jenis bank, NPL bank umum sebesar 2,72%, sedangkan NPL BPR sebesar 3,33%.
Kredit usaha mikro terus tumbuh
Realisasi kredit kepada UMKM di Sulsel tumbuh 10,99% yoy menjadi Rp54,47 triliun. Pertumbuhan tertinggi terdapat pada kredit usaha mikro 35,52% yoy menjadi Rp25,50 triliun.
Adapun kredit usaha kecil mengalami kontraksi sebesar 4,05% yoy menjadi Rp19,15 triliun dan penyaluran kredit usaha mikro menengah juga mengalami kontraksi sebesar 4,66% yoy yakni menjadi 9,82 triliun.
Kredit Restrukturisasi Perbankan menunjukkan trend yang menurun
Tren kredit restrukturisasi menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Total kredit restrukturisasi Bank Umum posisi Januari 2023 sebesar Rp17,46 triliun, turun sebesar Rp6,70 triliun atau mengalami penurunan 27,73% secara yoy jika dibandingkan posisi Januari 2022.
Penurunan kredit restrukturisasi sebagian besar terjadi di hampir seluruh sektor ekonomi. Hal ini menunjukkan pemulihan perekonomian wilayah Sulawesi Selatan semakin membaik.
Kinerja Industri Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank
Perkembangan industri pasar modal posisi Januari 2023 memperlihatkan pertumbuhan yang cukup tinggi di masa pandemi ini. Hal ini terlihat pada peningkatan inklusi masyarakat di Sulsel yang mencapai 43,99% secara yoy atau menjadi sebesar 312.948 rekening akan produk pasar modal seperti saham, reksadana dan Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu nilai transaksi saham sampai dengan Januari 2023 sebesar Rp1,74 triliun.










