Ketika Langit Tak Lagi Punya Dewa

Ketika Langit Tak Lagi Punya Dewa

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Ironisnya, banyak yang lebih sibuk berdebat soal artis yang selingkuh, daripada bertanya kenapa kualitas udara kita makin parah. Mengapa laut di sekitar Paotere penuh limbah kapal. Mengapa ribuan ton sampah menumpuk di TPA Antang tapi masih juga dibuka pasar swalayan baru setiap bulan.

Bencana dianggap biasa. Bahkan dinormalisasi. Di Bulukumba, longsor disebut “musibah”, seakan kita tak pernah tahu hutan di sana dipreteli perlahan oleh tambang galian C. Di Luwu, banjir dianggap kutukan, padahal sungai-sungai dirampok sedimen oleh galian C yang dilindungi oleh stempel birokrasi.

Barangkali, inilah saatnya kita berhenti berharap pada dewa dan mulai mengadili manusia. Bukan di pengadilan tinggi, tapi di ruang kesadaran kita sendiri.

Bahwa selama kita diam, selama terus memilih yang sama, selama masih menganggap bumi adalah milik segelintir pemodal dan birokrat, maka kita tak lebih dari komplotan perusak yang tersenyum di tengah reruntuhan.

Makassar, Sulsel, Indonesia—semua hanya potongan-potongan luka dalam tubuh planet yang sedang demam. Dan seperti anak kecil yang terlalu sering dibiarkan bermain korek api, kita akan terbakar oleh api yang kita nyalakan sendiri.

Mungkin benar, dewa-dewa tak akan kembali.