Terkini, Makassar - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini mulai dilirik kampus sebagai sumber pemasukan baru. Salah satunya dilakukan Universitas Hasanuddin yang resmi mengoperasikan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Tamalanrea, Makassar.
Peresmian dapur MBG Unhas dilakukan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto. Dapur yang diberi nama SPPG Tamalanrea 14 itu dikelola Yayasan Metavisi Akademik Nusantara, yayasan bentukan Unhas.
Wakil yayasan, La Halisu, menyebut dapur tersebut saat ini memproduksi sekitar 2.500 porsi makanan per hari untuk sembilan sekolah, terdiri dari enam TK, satu SD, satu SMP, dan satu SMA.
Operasional dapur melibatkan sekitar 20 pekerja dari masyarakat sekitar kampus. Mereka menangani berbagai tugas mulai dari penerimaan bahan baku, produksi, distribusi hingga pencucian ompreng dan pengamanan.
Jika mengacu pada estimasi keuntungan sekitar Rp2.000 per porsi, maka dapur MBG Unhas berpotensi meraup laba sekitar Rp5 juta per hari. Dalam sebulan, angka itu bisa mencapai ratusan juta rupiah jika produksi berjalan penuh.
Fenomena kampus menggarap MBG tak lepas dari perubahan sistem pendanaan perguruan tinggi negeri dalam dua dekade terakhir. Sejak banyak kampus berubah status menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), subsidi pemerintah berkurang dan kampus dituntut lebih mandiri mencari pemasukan.
Di sisi lain, kebutuhan operasional kampus terus meningkat, mulai dari pembangunan fasilitas, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pembiayaan riset dan pengabdian masyarakat.
Kondisi itu membuat kampus mulai agresif membangun unit usaha sebagai “mesin uang”. Selain Unhas dengan yayasan dan unit bisnisnya, sejumlah kampus lain juga memiliki perusahaan sendiri, seperti UI melalui PT UI Corpora, UGM lewat PT Gama Multi, hingga ITB dengan PT LAPI. Program MBG pun kini menjadi peluang bisnis baru yang dianggap menjanjikan bagi perguruan tinggi.










