Industri Ramah Lingkungan dari Jantung Sulawesi Jadi Modal RI Melawan Isu Dirty Nickel

Industri Ramah Lingkungan dari Jantung Sulawesi Jadi Modal RI Melawan Isu Dirty Nickel

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Dengan beberapa proyek strategis PT Vale yang sedang dibangun, yakni proyek pertambangan dan Smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk bahan baku baterai di Blok Pomalaa, serta Smelter HPAL di Blok Sorowako, perusahaan ini bisa mendukung upaya Mind ID untuk menjadi pemimpin industri baterai kendaraan listrik.

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo sebelumnya menyebut, dengan memimpin industri baterai kendaraan listrik, perusahaan pelat merah itu bisa mewujudkan keinginan untuk masuk dalam jajaran Fortune 500 Global.

Menepis Stigma 'Dirty Nickel' Indonesia

Ada modal besar yang membuat cara-cara pertambangan PT Vale bisa menjadi 'jurus' Mind Id membantu Indonesia melawan stigma dirty nickel atau pertambangan yang kotor.

Ya, isu dirty nickel Indonesia ini menjadi 'senjata' negara-negara pengimpor nikel untuk membuat nikel Indonesia menjadi murah. Dengan kampanye negatif itu, nikel Indonesia bisa dikenakan tarif di negara-negara pengimpor, sehingga tidak kompetitif.

Tapi negara-negara itu barangkali belum tahu, bahwa di jantung Sulawesi, sebuah industri tambang yang ramah lingkungan, jauh dari kesan dirty nickel justru telah beroperasi dan menyuplai bahan baku nikel untuk industri di negara-negara maju dalam 56 tahun terakhir.

Misi Hilirisasi Sejak Awal, dan Pro Lingkungan

Pada 1986 silam, setelah para pendiri PT Vale (saat itu bernama INCO) mendapat mandat dari negara untuk mengolah material berharga bijih laterit di Gugusan Pegunungan Veerbek menjadi nikel, di jantung Pulau Sulawesi, mereka sudah menancapkan pondasi perusahaan yang pro-lingkungan dan pro-hilirisasi.

INCO terlebih dahulu membangun industri smelter, lalu membangun dan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Larona pada 1979.

Berkapasitas 165 megawatt, PLTA ini memanfaatkan aliran Sungai Larona yang airnya berasal dari tiga danau pegunungan di dataran tinggi di Sulawesi itu, yakni Matano, Mahalona dan Towuti.

Vale kini memiliki totalnya 3 unit pembangkit listrik tenaga air atau PLTA dengan total kapasitas sebesar 365 megawatt. PLTA kedua yang beroperasi adalah Balambano pada 1999 dan Karebe pada 2011.

Ketiga PLTA Itu memenuhi 94 persen kebutuhan listrik industri PT Vale di Sorowako, Luwu Timur. Sebagian energi dari PLTA itu disuplai untuk kebutuhan masyarakat, sekitar sekitar 10,7 megawatt melalui jaringan PT PLN.