Terkini.id, Jakarta - Baru-baru ini, BUMN Pelayaran Nasional PT Pelni resmi membatalkan kajian Islam yang merupakan rangkaian ceramah untuk Ramadan mendatang.
Hal itu dilakukan lantaran rata-rata penceramah yang diundang dinilai termasuk penceramah radikal.
Berdasarkan poster yang beredar, di antaranya, yaitu Ustaz Firanda Andirja, KH. Cholil Nafis (pengurus MUI Pusat), Ustaz Rizal Yuliar Putrananda, Ustaz Syafiq Riza Basalamah, dan Ustaz Subhan Bawazier.
Bahkan, saking dianggap seriusnya permasalahan ini, pejabat PT Pelni yang terlibat juga turut dicopot alias dipecat.
Komisaris Independen PT, Kristia Budiyarto alias Kang Dede, akhirnya buka suara terkait permasalahan tersebut.
Ia mengatakan bahwasanya acara itu memang dibatalkan lantaran belum mengantongi izin dari direksi dan mayoritas penceramah yang diundang dinilai radikal.
Tentu saja keputusan tersebut menuai pro kontra publik. Ada yang setuju, tetapi ada pula yang mengecam.
Salah satunya ada anggota DPR RI, yakni Fadli Zon, yang ikut merespons keputusan tersebut.
Menurut Fadli, tindakan menuduh seseorang radikalisme adalah perilaku yang mencermikan Islamofobia.
Juga, orang-orang yang dengan mudah melempar tudingan radikal ke orang lain merupakan golongan orang yang miskin pemahaman Islam serta literasi sejarah peradaban Islam.
“Ada yang terpapar Islamophobia karena miskin pemahaman Islam dan literasi sejarah peradaban Islam," tulis Fadli Zon dalam media sosial Twitter-nya, dikutip terkini.id pada Sabtu, 10 April 2021.
"Akhirnya dengan mudah bikin stempel “radikal-radikul”," pungkas Fadli Zon tampak sarkastis.










