Secara khusus program ini berupaya untuk memperkuat prasarana mutu rantai nilai perikanan budidaya (quality infrastructures), memperkuat kapasitas pelaku usaha UMKM pembudidaya, pedagang, dan pengolah agar mampu memenuhi persyaratan mutu dan standar yang ada (SMEs compliance), serta meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan terhadap mutu (quality awareness).
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel, Muhammad Ilyas mengatakan proyek ini merupakan langkah baik dari eFishery untuk menghidupkan budidaya perikanan serta mendorong perekonomian di daerah Sulawesi Selatan demi terciptanya ekosistem ekonomi biru yang selama ini menjadi fokus pemerintah.
"Melalui proyek ini, kami menghadirkan proyek percontohan yang nantinya dapat diteruskan oleh petambak-petambak setempat,"bebernya.
Untuk mewujudkan ekosistem budidaya yang berkelanjutan dan bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April, kata Ilyas, eFishery melakukan penanaman mangrove di sekitar lokasi tambak untuk melindungi ekosistem dan menjaga lingkungan.
"Hal ini juga sekaligus menjadi bukti nyata eFishery untuk selalu melaksanakan praktik budidaya yang tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tapi juga bertanggung jawab,"pungkasnya.
Sekedar untuk diketahui, pada akhir tahun 2023, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan produksi udang nasional mencapai 1,09 juta ton.
Di tahun ini, target produksi tersebut meningkat menjadi 2 juta ton. Guna mendukung hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia siap membangun tambak udang modern di 12 lokasi di Indonesia sepanjang tahun 2024, salah satunya di Sulawesi Selatan.
Peluncuran proyek turut dihadiri VP Public Affair eFishery, Boedi Julianto mewakili GQSP UNIDO Indonesia, A. Indra Jaya Asaad selaku Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, dan Dr.Muhammad Ilyas ST, M.Sc, IPU selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel.










