Ia menekankan pentingnya gastronomi dalam wacana kebudayaan. Sebab dalam diskursus seni dan budaya, gastronomi sering kali tidak mendapatkan porsi layak sebagaimana bentuk seni lainnya.
"Padahal ia adalah dunia rasa, dunia seni, dunia eksistensi, sekaligus identitas kota Makassar,” jelasnya.
Dia juga menyatakan bahwa pameran ini menelusuri kuliner Makassar melalui lensa para fotografer yang menangkap kehidupan sehari-hari di dapur, pasar, dan ruang makan.
“Setiap foto menunjukkan bagaimana makanan bekerja sebagai bahasa budaya, merawat ingatan keluarga, memperkuat identitas, dan merayakan keberagaman etnik yang membentuk kota ini,” tuturnya.
Sejak abad ke-16, kata Darmadi, Makassar telah menjadi kota metropolitan yang besar, dihuni beragam latar etnik pendatang maupun lokal yang berbaur dan melahirkan cita rasa kuliner yang unik dan luar biasa.
"Melalui detail bahan, teknik memasak, hingga suasana ruang makan, pameran ini menyajikan kisah tentang sebuah kota yang hidup dalam ritme, rasa, dan tradisi,"tandasnya.










