Terkini, Makassar - Akademikus Indonesia Rocky Gerung menjadi pembicara pada bertemakan “Situasi Global dan Arah Politik Negeri” yang diselenggarakan oleh Organisasi Pandu Negeri, di Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Jalan AP Pettarani Makassar, Sabtu 9 Mei 2026.
Selain Rocky Gerung, hadir juga Akademisi Andi Luhur Prianto dan hadir secara daring Mantan Menteri Hukum dan Ham, Hamid Awaluddin. Acara itu dihadiri kurang lebih 500 orang peserta, bahkan juga dapat disaksikan melalui live streaming.
Pada diskusi itu, Andi Luhur menjadi pembicara awal, dia membahas mengenai situasi politik dalam negeri yang tidak lepas dari politik global.
“Harus kita akui, situasi politik global hari ini semakin mengarah kepada democratic decline atau demokrasi yang semakin melemah. Di mana-mana, pemimpin non-demokratis memperoleh kekuasaan melalui jalan yang demokratis. Pemilu yang demokratis tidak selalu menghadirkan pemimpin yang demokratis,” kata Luhur.
Luhur menambahkan, adanya laporan yang menyebutkan Democracy losing in the ballot box, demokrasi justru dicuri di kotak suara saat kita berpartisipasi dalam pemilu. Hal ini yang menjadi dalam terminologi politik disebut sebagai penurunan Kualitas Demokrasi di Indonesia.
Gejala penurunan kualitas demokrasi di Indonesia semakin tajam sejak periode kedua pemerintahan Jokowi. Meskipun ada penilaian indeks demokrasi dari Bappenas yang menunjukkan peningkatan, namun jika dibandingkan dengan puncaknya di tahun 2016, setelah itu grafiknya terus menurun.
“Indikator kelemahannya adalah, lembaga-lembaga demokratis seperti Mahkamah Konstitusi dan KPK dari waktu ke waktu kinerjanya semakin tidak memuaskan dan tidak memberikan harapan dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Baginya, Pemilu yang seharusnya menjadi mekanisme demokrasi, di banyak tempat justru menjadi tempat dilakukannya tindakan-tindakan yang tidak demokratis.
“Kritik terhadap populisme dan meritokrasi pendekatan tata kelola kekuasaan saat ini lebih berbasis pada populisme model kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat dengan retorika nasionalisme, lalu menggunakan anggaran negara (bansos) untuk menyukseskan tujuan pemilu berikutnya,” paparnya.
Sementara itu, Hamid Awaluddin berbicara membahas mengenai kekuatan Amerika dalam menghadapi peran panjang tidak pernah menang. Hal itu terbukti dari perang Korea dan Vietnam bahkan Taliban yang bukan negara.










