Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Saya kira sangat wajar jika Muhaimin tidak memahami singkatan itu. Bukan tidak paham substansi dari permasalahan. Tapi pertanyaan yang tidak tuntas dan tidak jelas. Apalagi sebuah singkatan dari bahasa Inggris yang kemudian ditanyakan memakai standar bahasa Indonesia: Es Ge ii Ee. Pastinya Muhaimin menyangka jika itu sebuah singkatan dari bahasa Indonesia.

Menanggapi situasi ini saya melihat pendukung Gibran bersorak, seolah memenangkan pertarungan hebat.

Padahal itu adalah akal-akalan yang licik yang tidak menyentuh substansi permasalahan. Tapi sekali lagi hal itu menunjukkan karakter yang tanpa disadari mengekspos diri dengan ketidak jujuran.

Saya pada akhirnya hanya ingin mengatakan bahwa baik Muhaimin maupun Mahfud MD sangat dewasa dan berhati-hati.

Kalau Mahfud mungkin karena bangaimanapun dia masih menteri dari sang ayah Gibran.

Sementara Muhaimin memang memiliki karakter yang selalu mencoba menyenangkan semua orang. Tentu sebagai politis tapi juga sebagai santri.

Saya hanya ingin mengakhiri bahwa sepenting apapun debat yang kita pahami ini, proses-proses yang terjadi pada Pilpres kali ini akan tetap menghantui pemikiran masyarakat.

Bahwa proses politik khususnya dalam pencalonan kali ini terjadi pemerkosaan etika yang tidak bisa dipandang enteng.

Cacat etika pencawapresn Gibran akan tetap menjadi catatan sejarah bangsa ke depan apapun hasil dari pilpres itu.

Saya hanya berharap pada debat Cawapres mendatang Muhaimin akan bertanya kepada Gibran tentang: AJKN (Anak Jada Konstitusi Negeri) atau PBP (Premature Born Politician).