Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Saya kembali mempertanyakan ini, karena terlepas dari tendensi tafsiran politis yang ada terkait dengan doa, ada dua hal mendasar yang perlu diingat.

Satu, doa khususnya dalam perspektif Islam adalah “mukhkhul ibadah” (intisari ibadah).

Dan karenanya dalam konteks negara Pancasila yang berketuhanan, doa sekaligus merupakan simbolisasi ketaatan kepada agama dan falsafah negara, Pancasila.

Dua, selama ini sebagai mayoritas biasanya doa dipimpin oleh seorang ustadz/kyai atau ulama.

Dengan cara hening cipta ini jangan-jangan sekaligus pesan bahwa status itu jangan lagi menjadi konsideran. Sehingga melalui hening cipta ingin disampaikan pesan status umat Islam sebagai mayoritas jangan lagi jadi pertimbangan. Tentu ini “mind reading” (bacaan kepala saya) saja. Semoga saya salah.

Terlepas dari semua itu saya melihat memulai sesuatu yang baik dengan tradisi doa tetap harus dilanjutkan.

Kalaupun kata “Amin” nantinya menggema, jika ini yang menjadi kekhawatiran, Kenapa justeru dipolitisir? Itu kan konsekswensi dari sebuah peristiwa yang terjadi di luar kontrol pasangan yang menamai diri “amin”.

Substansi Debat Cawapres

Saya melihat debat Cawapres ini tidak lepas dari tendensi adanya pihak yang diuntungkan dengan pengaturan yang terjadi.

Sekali lagi ini sangkaan saya saja. Bahwa pemilihan tema-tema seolah memang direserve disesuaikan kepada kepentingan siapa.

Kita semua tahu bahwa penentuan tema debat tentu akan banyak terkait dengan spesialisasi masing-masing kandidat.