Terkini, Gowa - Komunitas Masyarakat Adat Ballasuka, menjadi satu dari sejumlah komunitas adat di Indonesia yang harus menghadapi dampak perubahan iklim. Bukan cuma mempengaruhi proses bercocok tanam, perubahan iklim juga membawa bencana.
Tidak bisa dipungkiri, salah satu penyebab datangnya bencana perambahan hutan, alihfungsi lahan yang membuat menyusutnya lahan-lahan hijau di pegunungan. Dampaknya adalah banjir hingga longsor.
Wilayah adat di Ballasuka, yang dihuni sekitar 2.678 penduduk dengan 653 kepala keluarga, pernah mengalami banjir terbesar dalam sejarah, yakni pada pada Februari 2024. Banjir tersebut dimulai oleh curah hujan ekstrem menjadi dan menghantam rata-rata 3 hingga 4 petak sawah masyarakat adat di sepanjang Sungai Tanggarra.
Banjir itu juga membuat rumah beberapa warga terseret arus sungai yang meluap, dan akses jalan masyarakat terputus.
Bukan hanya itu, BPBD setempat juga mencatat, longsor juga pernah terjadi di beberapa desa di Kecamatan Tombolo Pao, dan menutup akses jalan menuju Balassuka sekitar 10 meter, pada 5 Juli 2025 lalu. Longsor tersebut bermula saat terjadi hujan deras selama beberapa hingga membuat tanah menjadi labil.

Tingginya bencana yang turut mempengaruhi kehidupan masyarakat adat, seiring dengan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan dalam 10 tahun terakhir (2013-2023), mengalami lonjakan lima kali lipat angka kejadian bencana, yakni pada tahun 2013 hanya tercatat 50 kejadian bencana, namun pada 2023 angkanya naik menjadi 267 kejadian bencana.
Selain itu, dalam sepuluh tahun terakhir total sudah ada 1.345 angka kejadian bencana dengan 1.641.706 jiwa yang menjadi korban akibat bencana ekologis di Sulawesi Selatan
Kepala Departemen Riset & Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan, Slamet Riadi mengungkapkan, dari hasil kajiannya, tercatat sepanjang 2001-2022, ada sekitar 85.270 Ha hutan di Sulsel yang hilang atau setara dengan 119.425 lapangan sepak bola.
"Saat ini, hutan tersisa di Sulsel hingga tahun 2023 yakni 1.359.039 Ha atau hanya tersisa 29,70 % dari luas provinsi. Selain itu, tercatat dari 139 DAS yang ada di Sulawesi Selatan hanya sekitar 38 DAS yang masuk dalam kategori sehat karena memiliki tutupan hutan di atas 30%.
Sedangkan sisanya sebanyak 101 DAS atau 72,6 % DAS yang ada di Sulawesi Selatan mengalami kritis. Kondisi ini lah yang juga berkontribusi atas tingginya angka kejadian bencana di Sulawesi Selatan utamanya bencana banjir, longsor, dan kekeringan," ungkap Slamet Riadi.
Tingkat perambahan hutan, yang mempengaruhi semakin kecilnya luas hutan, tidak dapat dipungkiri menjadi penyebab tingginya bencana ekologis di Sulawesi Selatan.










