Terkini.id, Jakarta - Kondisi finansial Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menjadi sorotan publik lantaran selalu saja memiliki utang yang besar. Setelah adanya usaha penyelamatan beberapa perusahaan yang memiliki utang tinggi. Masih saja muncul BUMN lain dengan permasalahan yang sama.
Seorang pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan beban utang BUMN disebabkan karena dua masalah utama.
Pertama karena keadaan keuangan BUMN diperburuk oleh datangnya pandemi Covid-19. Masalah kedua, kinerja BUMN yang memang sudah buruk jauh hari sebelum pandemi melanda dunia.
"Kondisi berat yang dialami BUMN pada beberapa tahun terakhir, karena disebabkan dua hal utama. Pertama dampak pandemik covid-19 memukul kinerja semua industri termasuk BUMN," ujar Toto.
"Kondisi kedua, memang sebelum pandemi merebak di 2019 akhir, kinerja BUMN tersebut sudah buruk," lanjutnya dilansir dari cnbcindonesia.com Kamis 16 Desember 2021.
Dia mengambil contoh, PT Angkasa Pura I dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengalami masalah keuangan karena berkurangnya lalu lintas orang di masa pandemi. Keadaan ini sungguh menggerus pendapatan perusahaan hingga terpaksa mencatatkan raport merah untuk pertama kalinya.
Kemudian kondisi kedua terjadi kepada BUMN seperti PT Garuda Indonesia Tbk, Krakatau Steel dan Holding Perkebunan.
"Kondisi buruk kelompok kedua ini lebih disebabkan karena mismanagement, investasi yang tidak produktif, serta agility yang rendah menghadapi dinamika perubahan eksternal yang terjadi," ujar Toto menjelaskan.
Garuda Indonesia kini menjadi sorotan karena tingginya utang yang dimiliki. Nilainya disebutkan mencapai US$ 9,78 miliar (setara Rp 138,88 triliun). Utang terbesarnya berasal dari utang lessor (penyewaan pesawat) mencapai US$ 9 miliar (setara Rp 128 triliun).
Hal tersebut terungkap dari paparan Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo pada rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI.
Kini Kementerian BUMN bersama manajemen Garuda Indonesia mengupayakan total utang Garuda bisa segera turun hingga Rp 52,39 triliun.
Sementara Krakatau Steel dan Waskita Karya tahun 2020 dan 2021 berhasil lakukan restrukturisasi sehingga diberi kesempatan menunda membayar utang hingga beberapa tahun mendatang.










