Antusias Warga Makassar Jalani Isolasi Mandiri di Tengah Lautan Terus Bertambah

Antusias Warga Makassar Jalani Isolasi Mandiri di Tengah Lautan Terus Bertambah

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar - Masyarakat yang terpapar gelombang kedua pandemi Covid-19 di Kota Makassar tengah menjalani pemulihan kesehatan atau isolasi apung di tengah lautan, di atas Kapal Umsini, milik PT Pelni.

Kapal tersebut bersandar di area Pulau Lae-Lae dengan jarak sekitar 1,5 km dari pesisir Kota Makassar.

Pada hari kelima beroperasi, antusias masyarakat yang terpapar Covid-19 untuk menjalani isolasi terus bertambah. Umsini mulai beroperasi sejak Senin 2 Agustus 2021.

Dari 70 orang yang menjalani isolasi pada Kamis, 5 Agustus 2021, kini bertambah 12 orang menjadi 82 pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) dan gejala ringan.

Tim Makassar Recover menggunakan Kapal Ampibi dari pelabuhan mengantar pasien ke Kapal Umsini.

"Kemarin (Kamis) 70 orang, hari ini ada penambaham pasien sebanyak 12 orang," Kata Juru bicara Makassar Recover, Natsar Desi, Jumat 6 Agustus 2021.

Umsini dapat menampung 804 pasien isolasi Covid-19. Natsar Desi mengatakan, para pasien ini berasal dari berbagai kecamatan di Kota Makassar yang sebelumnya telah melalui tes PCR.

"Mereka ini dirujuk dari berbagai puskesmas di Kota Makassar," kata Natsir Desi.

Menurutnya, tim yang bertugas di Isolasi apung terus berbenah dengan meningkatkan pelayanan demi memberi kenyamanan bagi pasien isolasi.

Salah seorang pasien Isolasi Apung, Ian (40) mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan Pemerintah Kota Makassar saat menjalani Isolasi.

"Pelayanan begitu baik dan bagus dengan makanan yang begitu banyak dan setiap hari diganti-ganti ditambah lagi diberi jus dan vitamin, terima kasih banyak pak Wali," kata Ian.

Tak hanya dimanjakan dengan asupan makanan, pasien pun melakukan berbagai aktivitas seperti memancing pada malam hari.

Selain itu melakukan olahraga senam pada pagi hari yang dipandu oleh Tim Makassar Recover dengan menggunakan kapal terpisah.

Sebelumnya, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengatakan pemerintah kota saat ini masif melakukan tracing kasus Covid-19.

Danny mengatakan saat ini pemerintah kota memiliki 14 ribu Swab yang bisa mendeteksi 4 variasi mutasi virus baru. Sementara antigen ada 400 ribu.

"Kita punya cukup banyak stok," ucapnya.

Ia menyebut standar isolasi pasien Covid-19 di Kapal Umsini rata-rata hanya 7 hingga 10 hari.

"Begitu 7 hari kapal harus sandar untuk mengisi bahan bakar dan air, di situ juga pergantian alumni, alumni baru naik, alumni lama sudah tamat da turun," kata Danny.

Danny Pomanto mengatakan fasilitas Kapal Umsini telah menyediakan paket berupa masker, suplemen, vitamin, dan tradsar alias Jus Anti Covid-19 Tradsar.

"Kita mesti doakan cepat-cepat sembuh. Kapal ini akan dipakai sampai dipastikan Corona menurun. Kita diberi kelonggaran sampai kapan pun kita pakai, selama membantu proses isolasi," ucapnya.

Ahli Epidemiologi Unhas Ansariadi mengatakan prinsip dasar isolasi adalah memisahkan masyarakat yang sakit dan sehat. Sembari, kata dia, tetap mengacu pada sejumlah kaidah, seperti memperlakukan masyarakat yang isolasi dengan benar.

"Orang itu kalau diisolasi adalah bagaimana kenyamanannya, bagaimana keamanannya dan juga bagaimana kesehatannya harus dipikirkan, supaya selama di tempat isolasi itu tidak menimbulkan masalah baru," ungkapnya.

Ia khawatir masyarakat yang isolasi justru menimbulkan persoalan baru dengan hadirnya penyakit baru akibat buruknya higienitas dan tingkat stres yang tinggi.

"Jadi pada prinsipnya higienitas itu terpenuhi karena ini jangan sampai ada penyakit baru yang muncul," lanjutnya.

Selain itu tempat isolasi yang ideal adalah bagaimana akses ke lokasi tempat rujukan bisa mudah, untuk memastikan situasi dapat terkendali jika kemudian terjadi situasi kritis.

Dia menilai isolasi yang baik utamanya pada aspek yang baru seperti kapal semestinya memerlukan assessment dari para ahli penyakit. Terlebih isolasi apung di atas kapal KM Umsini menggunakan sistem penggabungan pasien.

"Saya kira ini perlu assessment dari ahli penyakit lain, bagaimana kalau mereka yang sakit bisa bergabung-gabung, orang ini takutkan jangan sampai mungkin bergabung ada varian baru dan lama, sudah mau sembuh terinfeksi kembali. Ini perlu ada yang jelaskan ahli penyakit untuk yang infeksi seperti itu," ucapnya.

Privasi saat isolasi, kata dia, juga cukup penting dalam memberikan kenyamanan ke penumpang. Pemerintah kota diminta melakukan penyesuaian dengan hal itu.

"Pasti banyak keluhan desainnya tidak sama hotel kala dulu hotel satu dua orang dan ada lengkap dalam, kalau kapal tidak didesain untuk isolasi sehingga harus banyak menyesuaikan," katanya.

Senada dengan itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulselbar Abdul Azis menyebut aspek kenyamanan menjadi faktor penting dalam sistem isolasi. Hal itu berpengaruh langsung dengan tingkat stres seseorang.

"Tempat isolasi itu sebaiknya tidak memicu stres, makanya di lingkungan yang betul-betul bagus, ruang terbuka mungkin pemandangan yang bagus supaya tidak stres. Ini sangat berpengaruh dengan imunitas kita," katanya.

Bila terjadi percampuran dalam satu ruangan saat isolasi, ia mengatakan setiap pasien wajib menggunakan masker. Hal ini lantaran adanya kekhawatiran perbedaan varian virus.

"Isoman yang bercampur sesama positif, masker harus tetap dikenakan. Karena kita tidak tau siapa yang punya kekuatan aktivasi virus, inikan tidak tahu siapa yang varian Delta siapa yang biasa," ucapnya.

Selain itu, imunitas setiap pasien juga berbeda dalam menghadapi Covid-19. Hal itu berkaitan dengan tingkat keterparahan.

"Jangan bilang kita isoman karena sama positif dan tidak pakai masker. Tingkat keterpaparan di kita itu berbeda-beda," pungkasnya.