Terkini.id, Makassar - Tiga mahasiswa asal Sulawesi yang sedang berkuliah di Kairo, Mesir dideportasi oleh pemerintah Mesir. Mirisnya, mereka ditangkap polisi saat sedang tidur, dan aparat tersebut menggunakan senjata api.
Wakil Ketua Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT), Bunyamin Yapid mengungkapkan, mereka sebelumnya terlibat tindak kekerasan dalam insiden perkelahian antara mahasiswa Kerukunan Keluarga Sulawesi dengan Kerukunan Sunan Walisongo.
Namun, kasus itu sebenarnya sudah selesai dan berakhir damai. Anehnya, beberapa hari kemudian, aparat polisi datang menangkap mahasiswa Sulawesi itu dengan senjata laras panjang sekitar pukul 03.00 subuh. Mereka juga ditodong dengan pistol.
Bunyamin Yapid, setelah ditangkap otoritas keamanan Mesir memang sebelumnya memutuskan bahwa ketiga mahasiswa Indonesia itu terlibat tindak kekerasan dalam suatu perkelahian antar sesama mahasiswa Indonesia pada Juli 2023.
"Namun kasus itu telah tuntas dan seluruh pihak telah didamaikan. Karena tidak cukup bukti dan polisi sarankan untuk diselesaikan secara internal," terang Bunyamin, Senin 11 September 2023.
Anehnya, usai insiden itu dianggap tuntas, tiga mahasiswa dari Kerukunan Keluarga Sulawesi ditangkap oleh National Security setempat. Ketiganya bahkan sempat dipenjara selama dua pekan lamanya.
Padahal menurut Bunyamin, Mesir menganut asas praduga bersalah. Di mana, seluruh yang terlibat dalam suatu tindakan melanggar hukum harus sama-sama ditangkap dan ditahan.
"Nah kalau memang ada yang ditangkap kenapa hanya tiga mahasiswa ini. Padahal yang terlibat dalam insiden perkelahian itu kan ada banyak. Jadi ini perkelahian bukan pemukulan. Semua yang terlibat juga ditangkap sekalian," tukasnya.
Bunyamin bahkan memastikan bahwa ketiga mahasiswa ini bukanlah mereka yang terlibat dalam perkelahian antara KKS KSW.
"Apalagi ini yang ditangkap bukan mereka yang terlibat. Saya bisa pastikan itu karena saya mengikuti kejadian ini dari awal sampai tuntas dan damai," ucapnya.










