Wamen Kebudayaan Giring Ganesha Resmikan Kampus Lingkar, Dorong Ekosistem Kreatif di Makassar

Wamen Kebudayaan Giring Ganesha Resmikan Kampus Lingkar, Dorong Ekosistem Kreatif di Makassar

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar — Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha, meresmikan Kampus Lingkar di Makassar sebagai ruang pengembangan vokasi seni, budaya, dan industri kreatif bagi generasi muda di Indonesia Timur, Kamis 16 April 2026.

Founder Kampus Lingkar, Juang Manyala, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kebutuhan akan ruang belajar yang mampu memperkuat fondasi industri kreatif melalui pendidikan.

“Industri kreatif tidak bisa tumbuh tanpa edukasi yang kuat. Kampus Lingkar hadir sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan pengembangan talenta,” ujarnya.

Wamen Kebudayaan Giring Ganesha Resmikan Kampus Lingkar, Dorong Ekosistem Kreatif di Makassar

Sejak mulai berjalan, Kampus Lingkar telah menggelar sejumlah program awal, di antaranya kelas internasional yang menghadirkan performer dari Denmark dan Norwegia, serta masterclass film bersama Garin Nugroho. Kegiatan ini mendapat respons positif dari komunitas kreatif di Makassar.

Sementara Wali Kota Makassar yang diwakili Ahmad Namsum, S.Ag., MM., Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kota Makassar turut mendukung inisiatif tersebut.

Ia menyebut Kampus Lingkar sebagai ruang strategis dalam mengembangkan kreativitas anak muda.

“Kampus Lingkar menjadi bukti bahwa anak muda Makassar memiliki potensi besar. Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan kreativitas dan kapasitas generasi muda,” ujarnya.

Sedangkan Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun ekosistem kreatif.

Wamen Kebudayaan Giring Ganesha Resmikan Kampus Lingkar, Dorong Ekosistem Kreatif di Makassar

Ia menilai kekuatan budaya di Sulawesi merupakan modal besar yang harus terus dikembangkan.

“Kita ini bukan hanya bangsa pelaut, tapi juga bangsa seniman. DNA kita adalah DNA kreatif. Tinggal bagaimana kita menyediakan ruang untuk mengembangkannya,” kata Giring.