Terkini.id, Jakarta – Anggota Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), Tatak Ujiyati membela Gubenur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang dikritik karena menggunakan kata “pribumi” dalam pidato kemenangannya 2017 lalu.
Tatak Ujiyati mengatakan bahwa kata “pribumi” yang diucapkan Anies justru sebagai penekanan bahwa ia akan melindungi rakyat kecil yang terpinggirkan selama menjabat.
Ia menilai hal ini sudah terbukti dari apa yang dilakukan Anies Baswedan selama memimpin DKI Jakarta beberapa tahun ini.
“Apakah kata pribumi itu rasis? Cek definisi pribumi,” kata Tatak Ujiyati, sebagaimana dilihat pada Sabtu, 30 April 2022.
“Kata pribumi yang diucapkan Anies justru sebagai penekanan bahwa selama menjabat Anies akan melindungi rakyat kecil yang terpinggirkan,” sambungnya.
“Terbukti itu yang dia lakukan selama memimpin Jakarya kan,” katanya lagi.
Sebagaimana diketahui, pidato perdana Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang mencantumkan kata-kata “pribumi” memang menjadi kontroversi pada 2017 lalu.
Adapun pernyataan Anies yang membuat heboh berbunyi “Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami".
Dilansir dari Detik News, kalimat di atas adalah bunyi teks pidato yang dipegang oleh Anies Baswedan.
Namun, pernyataan yang disampaikan langsung Anies agak berbeda, ada sedikit penambahan kata-kata menjadi berbunyi sebagai berikut:
“Dan Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Selama ratusan tahun,, di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh. Tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Karena itu, bila kita merdeka, janji-janji harus dilunaskan. Dulu kita semua, pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan dalam pepatah Madura.”
Terkait pidato tersebut, Anies Baswedan telah meluruskan konteks dalam pernyataannya terkait “pribumi”.
“Itu pada konteks pada era penjajahan. Karena saya menulisnya juga pada zaman penjajahan dulu karena Jakarta itu kota yang paling merasakan,” kata Anies pada Senin, 17 Oktober 2017.









