Taliban Klaim Kuasai 85 Persen Wilayah Afghanistan, Kemenlu RI: Kami Terus Pantau Situasi Keamanan!

Taliban Klaim Kuasai 85 Persen Wilayah Afghanistan, Kemenlu RI: Kami Terus Pantau Situasi Keamanan!

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Kabul - Taliban klaim kuasai 85 persen wilayah Afghanistan, Kemenlu RI: kami terus pantau situasi keamanan! Pasca militer Amerika Serikat dan sekutunya perlahan angkat kaki atau meninggalkan Afghanistan, Taliban mengklaim telah menguasai 85 persen wilayah di sana. Terkait hal itu, Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kabul, terus memonitor situasi keamanan para warga negara Indonesia (WNI) di negara yang terus dirundung perang itu.

“Untuk memberikan perlindungan bagi WNI yang berada di Kabul, Kemlu dan KBRI Kabul telah menyusun rencana kontijensi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan," ungkap Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI, Judha Nugraha dalam keteranganya resminya pada Sabtu 10 Juli 2021, seperti dilansir dari Reuters, Senin 12 Juli 2021.

Selain itu, sebut Judha, KBRI selalu menjalin komunikasi dan memonitor keselamatan WNI di Afghanistan.

Ia mengungkapkan, sesuai database awal KBRI Kabul, terdapat 46 WNI tinggal Afghanistan. Namun, saat ini sebagian besar telah kembali ke Indonesia.

“Sehingga saat ini tercatat hanya terdapat tiga WNI yang masih menetap di Afghanistan,” kata Judha.

Sebelumnya, masih menurut laporan Reuters, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan misi militer AS di Afghanistan akan berakhir pada 31 Agustus 2021.

Biden mengungkapkan, tidak akan melibatkan generasi lain Amerika Serikat ke dalam konflik senjata yang telah berlangsung selama 20 tahun di Afghanistan.

Berbicara di Ruang Timur Gedung Putih, Biden mengatakan militer Afghanistan diyakininya memiliki kemampuan untuk mengusir Taliban.

Ia menyangkal laporan intelijen Amerika Serikat yang memperkirakan, pemerintah dukungan Negeri Paman Sam di Kabul itu akan runtuh dalam enam bulan, menyusul kekhawatiran terhadap munculnya perang saudara.