"Kegiatan ini kita sambut dengan baik semoga bisa menjadi pencerahan buat kita semua khususnya yang peserta bahwa bagaimana mereka bisa memahami poin yang disampaikan ulama kita," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua MUI Kota Makassar Syekh Baharuddin mengatakan bahwa peran ulama harus netral di dunia politik, tidak boleh berpihak ke salah satu politisi.
"Situasi politik ini sudah mulai panas, kegiatan ini digelar untuk mengingatkan kembali kepada tokoh-tokoh agama untuk tetap netral jelang pemilu ini tiba," ujar Baharuddin.
Baharuddin menjelaskan kembali, bukan berarti ulama tidak boleh berpolitik, namun peran seorang ulama sangat penting dalam pemerintahan atau kepada politisi sekalipun untuk memberi nasehat dan masukan.
"Ulama tidak dilarang politik, justru harus masuk juga (politik) untuk menasehati para penguasa dipemerintahan dalam konteks kebaikan ummat, tapi tidak boleh terlibat secara politik praktis," tukasnya.
Ia menambahkan keterlibatan ulama di dunia politik harus memberi solusi, bukan pembuat masalah.
"Ulama itu harus menyelesaikan masalah bukan menjadi sumber masalah," tambahnya.
Sementara itu, PW Muhammadiyah Sulsel, Prof Ambo Asse sebagi pemateri diskusi publik menerangkan ulama punya kewajiban menyampaikan pencerahan kepada ummat dalam menghadapi perbedaan politik ditengah masyarakat.
"Sangat penting adalah bagaimana ulama ini memberi pencerahan kepada ummat, baik dalam menghadapi masalah politik maupun yang lain, sehingga ummat ini betul-betul bisa menentukan pilihannya," jelasnya.
Dirinya menuturkan Majelis Ulama harus menjaga keutuhan antar ummat beragama serta menjadi contoh dalam berbagai hal, terlebih dalam mengahadapi pemilu 2024.










