Terkini.id, Jakarta – Satu orang dalam daftar pencarian orang (DPO) anggota terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Suhardin alias Hasan Pranata di Sulawesi Tengah, ditembak mati Satgas Madago Raya usai dirinya melakukan perlawanan dengan melempar bom ke arah petugas. Tindakan tegas dengan melepaskan tembakan ini justru berujung menewaskan pelaku.
“DPO teroris tersebut melakukan tindakan melemparkan body vest berwarna loreng ke anggota pos sekat yang diduga BOM. Akhirnya, anggota melakukan tindakan tegas kepolisian terhadap DPO teroris sehingga DPO teroris meninggal dunia," ungkap Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo, Jakarta, dikutip dari detiknews.com pada Kamis, 28 April 2022.
Pihaknya mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan akibat Suhardin mengabaikan anjuran aparat dan justru memberontak dengan perlawanan yang membahayakan keselamatan aparat.
Dilansir dari detiknews.com, sebelumnya, Satgas Madago Raya gigih melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap sisa anggota MIT yang berjumlah tiga orang, di antaranya Jaid alias Pak guru, Nae alias Galuh alias Mukhlas, dan Suhardin alias Hasan Pranata.
Maka dengan sudah tertangkap dan ditemukannya Suhardin, pengejaran terhadap anggota kelompok MIT tersisa dua orang.
Sebagai informasi, Polri sudah memburu anggota kelompok terorisme MIT di Poso, Sulawesi Tengah sejak tahun 2016 lalu.
Dalam pengejarannya, dibantu oleh TNI dalam operasi yang bernama Tinombala. Namun kini berganti menjadi Operasi Madago Raya pada tahun 2021.
Kelompok ini dipimpin oleh Ali Kalora sejak tahun 2016, menggantikan Santoso alias Abu Wardah usai tewas dalam baku tembak dengan aparat pada Operasi Tinombala Juli 2016.
Namun, dilansir dari bbc.com, Ali Kalora juga berhasil diringkus pada Operasi Magado Raya di Wilayah Pegunungan Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada September 2016 silam.
Pengejaran terus dilakukan oleh Satgas Madago Raya hingga kini hanya tersisa 2 orang.










